JAKARTA - Sampah masih menjadi masalah. Akibat kegiatan konsumsi dan produksi yang tidak bertanggung jawab, Indonesia memasok sampah organik sebanyak 63% setiap tahun.
Guna mengurangi jumlah tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan alternatif pemanfaatan larva lalat untuk mengurangi jumlah sampah.
Bram Dortmans dalam konferensi yang diadakan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian ITS ini menyebutkan, mengurangi pemakaian, daur ulang, penimbunan dan pembakaran menjadi solusi permasalahan sampah di Indonesia. Terlebih, pembakaran masih menjadi pilihan utama dari masyarakat.
“Pembakaran bukanlah solusi, masih ada cara lain yang lebih baik, seperti melakukan daur ulang,” ujarnya, seperti dikutip dari laman ITS, Senin (7/10/2019).
Baca juga: Australia Akan Hentikan Ekspor Sampah Daur Ulang
Lebih lanjut, project manager dari Eidgenössische Anstalt für Wasserversorgung, Abwasserreinigung und Gewässerschutz (EAWAG) ini menyayangkan daur ulang sampah organik masih jarang dilakukan di daerah berpendapatan rendah dan menengah. “Padahal sampah organik menjadi kontributor terbesar dari sampah perkotaan,” tambah Bram.
Melalui proyek From Organic Waste to Recycling for Development (Forward) di wilayah Sidoarjo, ia menawarkan solusi untuk mengatasi peningkatan jumlah sampah. Caranya, dengan memanfaatkan sampah organik sebagai makanan larva lalat.