"Belajar boleh keliling-keliling. Begitu saya beri soal, anak-anak tidak langsung tanya kepada saya, tapi bertanya ke temannya. Jawaban-jawabannya memang belum tentu benar. Nanti saya tuliskan semua jawaban anak-anak di depan. Lalu, ajak berpikir lagi mana jawaban yang tepat dari temuan-temuan mereka itu," paparnya.
Alumnus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) itu mengakui, memang anak-anak di sekolahnya belum bisa dilepas untuk belajar mandiri seperti sistem di luar negeri. Bahkan, dia harus menggunakan kata-kata yang mudah dipahami siswa karena mereka masih menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan sehari-hari.
"Pelan-pelan saya ajari. Misalnya untuk mengetahui istilah minus kadang harus diganti dengan kata utang. Di tahap awal yang penting mereka mau berpartisipasi dalam proses belajar. Tadinya mau berpendapat saja mereka takut. Ke depan, mereka harus bisa menyanggah sehingga diskusi di kelas semakin hidup," tukasnya.
(Susi Fatimah)