"Banyak peneliti yang ingin tahu apa makna di dalam naskah kuno, ada kekayaan lokal apa di zaman itu yang mungkin saat ini bisa diterapkan. Tapi kalau mengakses ke naskah kuno secara langsung, susah," tuturnya.
Pelestarian terhadap naskah kuno, imbuh Erick penting dilakukan karena sudah terancam kepunahan, seperti rusak termakan usia, tidak banyak yang bisa membaca naskah sunda kuno, dan sudah berhentinya penulisan naskah menggunakan tulisan sunda kuno. Menurut dia, penelitian bersama ini bermula dari program Ancient Manuscript Digitalization and Indexation (Amadi) yang telah dilakukan sejak tahun lalu.
"Selain proses digitalisasi naskah Sunda kuno, penelitian serupa juga dilakukan terhadap naskah kuno di Bali dan Kamboja dengan juga melibatkan perguruan tinggi setempat," tukasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)