Menurut Dr Indria Laksmi Gamayanti, diperlukan pendekatan psikologis pada anak-anak penyandang epilepsi. Dan tidak bisa hanya pada si anak melainkan juga pada orangtua, keluarga, guru dan sekolah.
"Guru dan sekolah harus memahami betul kondisi penyandang epilepsi jangan sampai menjadi objek tontonan, ejekan atau hal negatif lainnya," ujar Indria.
Sedangkan menurut Dr Marc Hendriks, saat ini sedikitnya ada 250 jenis epilepsi dan tiap tahunnya selalu bertambah jumlahnya sejalan dengan ditemukan jenis-jenis penderita baru. Namun kesamaan dari berbagai jenis itu ditandai dengan adanya kerusakan otak penderita karena berbagai faktor, termasuk kemungkinan akibat diabetes.
Ahli neoropsikologi klinis ini menyebut tidak ada perbedaan gender (apakah wanita atau pria) bisa terkena epilepsi dan masa anak-anak lebih besar kemungkinanya sebagai penyandang epilepsi (terkena serangan) dibanding orang dewasa.
(Rifa Nadia Nurfuadah)