MENJADI salah satu dari 44 peserta terpilih, apalagi dari 47.523 orang pendaftar program Menyapa Negeriku, tak pernah terbayangkan sebelumnya di benak saya. Mau tahu rahasianya?
Program Menyapa Negeriku adalah program partisipasi publik terhadap program unggulan yang diampu oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Implementasi program ini adalah untuk menjaring minat dan keikutansertaan publik untuk hadir berbagi inspirasi sekaligus melihat perjalanan program Sarjana Mendidik untuk Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T).
Jujur, saya tak pernah membayangkan terpilih untuk mengikuti program Menyapa Negeriku. Kabar tentang pendaftar yang telah mencapai angka 30 ribu, sudah membuat saya menjadi tidak percaya diri. Ibarat pungguk merindukan bulan. Harapan saya pun seolah tinggal harapan.
Namun begitu ada e-mail pemberitahuan, tentang "Seleksi Tahap Akhir" dari panitia pada 18 November 2015, maka asa itu pun kembali bersemi. Segera saja saya respons e-mail tersebut secara teliti, cermat, sekaligus cepat. Saya tak mau kehilangan kesempatan emas ini. Alhamdulillah, saya lolos.
Berikut ini beberapa langkah sederhana yang saya lakukan agar terpilih menjadi peserta Menyapa Negeriku:
1. Berdoa
Berdoa adalah kuncinya. Diiringi dengan berzikir. Bahasa sederhananya, memperbanyak mengingat Allah. Di mana pun. Kapan pun. Memintalah yang terbaik kepada Allah. Berserah dirilah setelah itu. Iringi dengan banyak melakukan perbuatan baik, terutama bersedekah (berderma).
2. Meminta izin dan restu orangtua
Setelah tahu saya terpilih maju ke tahap selanjutnya, maka segera saya hubungi orangtua. Saya meminta izin, doa restu, dan rida keduanya. Karena saya sadar bahwa keridaan Allah amat tergantung kepada keridaan orangtua.
3. Memiliki hati penuh Cintakasih
Sinergi-kolaborasi adalah kunci untuk mewujudkan Indonesia jaya. Nah, sinergi dan kolaborasi dapat berjalan secara berkesinambungan, bila masing-masing individu memiliki hati yang penuh Cintakasih. Apa hubungannya? Karena dengan demikian, tidak ada lagi egosentris dan egoisme. Yang ada adalah altruisme. Keinginan untuk senantiasa berbagi dan mengasihi sesama tanpa pamrih. Bahasa sastrawinya, mencinta hingga terluka, berbagi kasih hingga perih. Tenang saja, bila dirimu terluka atau menderita karena memikirkan sesama, serta demi kemajuan bangsa ini, maka Allahlah yang langsung turun tangan mengobati dan menyembuhkan dirimu.
4. Hasrat untuk berbagi
Milikilah keinginan untuk selalu berbagi ilmu pengetahuan, pengalaman, kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Sebab semakin banyak kita berbagi, maka semakin banyak pula yang akan kita terima. Terlebih lagi ilmu. Ia akan bertambah ketika kita bagikan, dan akan berkurang bila kita simpan sendirian.
Lalu, pertimbangkanlah apa yang akan kita bagikan dengan berapa lama kita akan tinggal dan tingkat kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Pengetahuan praktis dan terapan tentunya akan sangat bermanfaat daripada teknologi canggih yang belum tentu aplikatif. Bagikan dan tuliskan semua itu melalui media sosial dan media cetak. Syukur-syukur kalau kita piawai menulis buku. Melalui buku, maka kita telah menorehkan prasasti kehidupan dan mengukir sejarah.
5. Mulailah dari hal-hal yang sederhana
Ajarilah anak-anak dan warga bagaimana mengenali sains dan ilmu pengetahuan dengan cara yang paling sederhana, asyik, dan menyenangkan. Buatlah permainan yang edukatif. Jadi mereka dapat bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Lalu buatlah mereka terlibat.
Inilah pendekatan partisipatoris. Learning by doing. Belajar sambil melakukan. Sehingga mereka tidak akan lupa tentang hal-hal yang kita ajarkan. Contohnya: senam otak (brain gym), berhitung cepat (mathemagics), medismart (medis praktis), mengenali tanaman obat di lingkungan sekitar kita, belajar bahasa Inggris dari alam sekitar, menulis dan membaca puisi, menulis surat untuk presiden Republik Indonesia, membuat pohon impian, belajar baris-berbaris, dsb. Bagaimanapun, kesederhanaan adalah cahaya keindahan.
6. Alam semesta sebagai guru terbaik kehidupan
Nan satitiak jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadi guru. Yang setitik jadikan laut, yang sekepal jadikan gunung, alam terkembang (semesta raya) menjadi guru (sumber pembelajaran). Inilah filosofi Minang yang selalu saya ingat. Selain dunia riset, medis, kepenulisan, serta pendidikan, mengembara dan berpetualang juga merupakan passion saya untuk belajar dari alam dan kehidupan.
7. Jadilah dirimu sendiri yang unik, kreatif, inovatif
Saya baru tahu kalau dari 44 peserta yang terpilih, secara resmi hanya ada dua orang dokter. Profesi 44 peserta terpilih beragam. Mulai dari atlet silat, guru tari, guru, jurnalis, penulis, editor senior, peneliti, pendongeng, fotografer, apoteker, seniman, PNS, mahasiswa berprestasi, dsb. Boleh jadi profesi saya yang terunik, karena di formulir saya cantumkan: dokter digital/online, penulis, konsultan kesehatan, blogger.
Selalu upgrade dirimu. Caranya mudah. Jangan malas membaca. Bacalah koran, jurnal, berita di media massa, buku di perpustakaan atau toko buku. Kalau punya uang, berhematlah, ditabung. Lalu, dapat digunakan untuk mengikuti pelatihan atau workshop yang menunjang pendidikan dan passion-mu. Misalnya: workshop menulis, emergency (kegawatdaruratan), dsb.
Artikel kiriman:
dr. Dito Anurogo
Dokter digital/online, penulis 17 buku, peserta terpilih Menyapa Negeriku, Founder-CEO Indonesian Literacy Fellowship (Sahabat Literasi Indonesia)
Mahasiswa S-2 IKD Biomedis FK UGM Yogyakarta
Punya cerita inspiratif seputar kegiatan belajar, perjuangan meraih beasiswa dan pengalaman lainnya? Yuk, berbagi, dengan mengirimkan artikel dan foto pendukung ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com!