Lasmawan yang juga pembantu rektor II Undiksha itu mencontohkan rendahnya intensitas kerjasama antara pemerintah daerah di Pulau Dewata dengan kalangan akademisi di beberapa perguruan tinggi besar di Bali dalam hal pembangunan.
"Kami bisa menghitung hanya beberapa saja yang menjalin kerja sama dengan Undiksha misalnya dalam hal peningkatan sumber daya manusia di daerah, padahal banyak orang orang hebat di perguruan tinggi, ahli dalam berbagai bidang keilmuan," paparnya.
Dikatakan, kerjasama dapat dijalin dengan perguruan tinggi seperti peningkatkan kualifikasi pendidikan staf pemda, diklat keterampilan, peningkatan kompetensi dan lain-lain. "Selain itu, dalam bidang keahlian, kami misalnya memiliki tenaga ahli kualifikasi doktor dan profesor berbagai bidang, ahli hukum, ahli ekonomi, pakar politik dan masih banyak lagi," paparnya.
Oleh karena itu, kata Lasmawan, generasi muda sebagai agen perubahan dan juga pemilik suara paling besar harus memilih pemimpin yang benar benar memiliki visi jelas membangun pendidikan. Saat ini sedikitnya 40 persen para pemilih berasal dari kalangan usia produktif.
"Bukah hanya itu saja, kami berharap pemilih muda dan pemula menggunakan hal politiknya dengan baik, dengan memilih calon yang memiliki jejak karier yang baik dan serius membangun pendidikan," tandasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)