Sayang, kendala penglihatan saat itu membuatnya gugur dalam dua kali tes masuk Akabri saat itu, sekarang Akmil. Menyerahkah Saleh Husin muda? "Saya lantas berpikir, mungkin militer bukan jalan hidup saya dan saat itu juga memantapkan diri untuk kuliah," ujarnya.
Dia juga mulai berbisnis. "Mainan" pertamanya ialah bisnis sablon banner kain untuk anak-anak SMA. Bermodal uang kiriman dari ibunya sebesar Rp500 ribu, dia memesan banner di Bandung. Itupun Saleh hanya mampu membayar separuh ke percetakan.
"Banner pertama itu untuk Perguruan Cikini. Dalam setengah jam ludes terjual berkat bantuan teman-teman," katanya sembari menuturkan uang yang ia peroleh dari usaha perdana itu sebesar Rp 2,5 juta.
Yang ia lakukan adalah segera datang ke percetakan di Bandung untuk melunasi kekurangan pembayaran. "Bagi saya kejujuran itu nomor satu. Apalagi percetakan lebih dulu percaya sama saya," sebut Saleh.
Berikutnya satu bisnis berlanjut ke bisnis berikutnya, seiring pergaulan yang meluas. Gelar sarjana pun berhasil ia raih di Jakarta. "Selain jujur, prinsip saya ialah berani bermimpi, pintar-pintar membawa diri, tidak mengambil yang bukan hak saya, dan kerja keras serta berdoa. Insya Allah, ada saja jalan yang kita dapatkan," ulasnya.