JAKARTA - Kesekilan kalinya Universitas Trilogi melakukan kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam melakukan upaya pencegahan "penyakit" yang membuat negeri semakin bangkrut.
Dengan mengusug tema ‘Semua Siap Beraksi (Berantas Korupsi)’, seminar yang diikuti oleh lintas kalangan tersebut menghadirkan pembicara dari KPK yakni Irawati.
Dalam paparannya, pembicara yang juga alumnus Universitas Trilogi itu mengatakan, untuk siap ‘beraksi', ada beberapa yang harus diketahui bersama terkait mengapa kita melakukan aksi tersebut. Hal itu di antaranya adalah kondisi Indonesia, fakta korupsi di Indonesia, tipologi korupsi, percepatan pemberantasan korupsi, dan tentang KPK itu sendiri.
Perihal kondisi Indonesia, menurutnya, sampai saat ini ada fakta yang tak terbantahkan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya.
“Indonesia sebenarnya negeri yang sangat kaya. Beberapa fakta yang tak terbantahkan itu, di antaranya, Indonesia merupakan lumbung energi panas bumi terbesar di dunia, 80 persen suplai rotan dunia, 20 persen suplai LNG dunia, produsen kakao ketiga, dan lain sebagainya," ujar Irawati, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (12/1/2015).
Memang sejak reformasi bergulir, amanatnya sendiri belum tuntas terlaksana. Terutama, terkait penegakan supremasi hukum serta mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) itu sendiri. Bahkan hingga saat ini, upaya untuk menuntaskan kedua hal tersebut masih terlihat samar atau bahkan belum jelas sama sekali.
Untuk itulah perlunya upaya semua pihak agar agenda pemberantasan korupsi di Indonesia mencapai sasaran yang tepat. Upayanya juga harus dimulai dari hal yang terkecil dan lingkungan terkecil. Ini juga disinggung Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Asep Saefuddin, saat menyampaikan sambutan.
“Universitas Trilogi sangat konsentrasi untuk menciptakan generasi antikorupsi dan generasi yang siap Beraksi (Berantas Korupsi). Untuk itu, kita semua haruslah melakukan dari hal-hal terkecil. Mahasiswa misalnya, dimulai dengan jangan mencontek saat ujian. Begitu juga mulai saat ini biasakan diri untuk tidak melakukan tindakan yang mubazir, karena itu juga korupsi,” ucap sang pakar statistika Indonesia.
Asep melanjutkan, bahkan KPK saat ini juga sedang membangun kesadaran bersama bahwa korupsi itu bukan hanya dilakukan para pejabat tinggi. Tetapi, secara tidak sadar dilakukan oleh masyarakat kecil.
Korupsi saat ini memang menjadi kata yang sangat familier dengan seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya, banyak masyarakat yang belum tahu dan mau untuk melakukan pencegahan tindakan terhadap korupsi itu sendiri. (fsl)
(Rani Hardjanti)