JAKARTA - Kelelawar adalah salah satu jenis hewan mamalia. Para ilmuwan menemukan fakta baru saat mereka bereproduksi atau proses kawin. Para ilmuwan mengungkap misteri organ reproduksi hewan yang luar biasa besar, berkat rekaman perkawinan kelelawar di loteng gereja oleh seorang pensiunan Belanda.
Para peneliti dari Universitas Lausanne menemukan bahwa spesies kelelawar memanfaatkan pelengkap secara unik selama reproduksi, Penelitian mereka, yang berjudul “Mating Without Intromission in a Bat” (Perkawinan Tanpa Intromisi pada Kelelawar) yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, berfokus pada kelelawar serotine, yang organ reproduksinya kira-kira tujuh kali lebih panjang dibandingkan anatomi pasangannya.
Mamalia, seperti kelelawar dan manusia, biasanya menjalani pembuahan internal untuk kehamilan, dengan anatomi jantan berevolusi untuk membantu pengiriman sperma di dekat sel telur saat kawin. Namun, hewan tertentu, seperti burung, menggunakan lubang khusus yang disebut kloaka untuk reproduksi dan ekskresi limbah, melakukan 'ciuman kloaka' untuk mentransfer sperma.
Dilansir dari Science Times, Selasa (22/11/2023), Mihaela Pavličev, ahli biologi evolusi di Universitas Wina, mencatat keunikan transfer sperma tanpa penetrasi pada mamalia, membuat perilaku yang diamati pada kelelawar serotine belum pernah terjadi sebelumnya. Penelitian ini dimulai ketika Nicolas Fasel dan rekannya di Universitas Lausanne menemukan kelamin kelelawar serotine yang sangat besar dan tidak konvensional, yaitu 22% dari panjang kepala-tubuh saat ereksi.
BACA JUGA:
Secara kebetulan, Fasel menerima email dengan lampiran video dari Jan Jeucken, seorang penggila kelelawar yang memantau populasi kelelawar di loteng gereja di Belanda. Video unik ini, yang menangkap perkawinan kelelawar, mendorong analisis terhadap 93 peristiwa perkawinan di loteng gereja dan empat kejadian di pusat rehabilitasi kelelawar di Ukraina.
Hasil Penelitian
Meskipun kopulasi terlama yang diamati berlangsung selama 12,7 jam, separuhnya berlangsung selama 53 menit atau kurang. Patty Brennan, ahli biologi di Mount Holyoke College yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menggambarkan strategi reproduksi sebagai hal yang tidak biasa, menekankan pada perilaku reproduksi kelelawar yang beragam dan belum ditemukan. Fasel berspekulasi bahwa kelelawar betina mungkin menggunakan leher rahimnya yang sangat panjang untuk menahan sperma dari banyak pejantan selama berbulan-bulan sebelum memilih pasangan untuk bereproduksi.
BACA JUGA:
Studi tersebut menunjukkan kemungkinan spesies kelelawar lain melakukan perkawinan non-penetratif, sehingga mendorong Fasel menyoroti perlunya penelitian tambahan pada berbagai spesies. Para penulis menggarisbawahi penemuan pola perkawinan baru pada mamalia, dan menyerukan penyelidikan lebih lanjut terhadap persaingan laki-laki dan peran pilihan perempuan sebelum dan sesudah perkawinan. Untuk mengeksplorasi perilaku kawin kelelawar serotine lebih jauh, Fasel dan rekan-rekannya sedang mengerjakan pembuatan kotak kelelawar, menyerupai akuarium dengan jangkauan kamera yang luas, seperti dilansir LiveScience. Tujuannya untuk mengamati kelelawar kawin.
(Marieska Harya Virdhani)