Share

Bahaya Self-Diagnose Gangguan Mental hanya Bermodal Internet

Mega Resti Lia Andini, Presma · Jum'at 25 November 2022 14:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 624 2714706 bahaya-self-diagnose-gangguan-mental-hanya-bermodal-internet-Dj937ADvdL.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Sekarang ini, banyak kampanye yang dilakukan di media sosial untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.

Tentu itu memiliki tujuan yang baik, akan tetapi sayangnya hal tersebut dibarengi oleh fenomena self diagnose yang menjamur di masyarakat.

Kemudahan dalam memperoleh informasi melalui internet sebagai dampak dari kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab dari self diagnose.

Sebelum membahas lebih lanjut bahaya dari self diagnose, apa sih self diagnosis dan dangguan mental itu? Menurut White dan Horvitz (2009) self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui.

Self diagnose tidak hanya dapat dilakukan pada kesehatan fisik saja, tetapi kesehatan mental juga.

Gangguan kesehatan mental merupakan kondisi ketika seorang individu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dirinya dengan kondisi di sekitarnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Penyebab seseorang melakukan self diagnose karena merasa penasaran dengan gejala yang dialami, bingung, tertekan dan tidak dapat menahan emosi negatif.

Sehingga, mereka mencari informasi terkait keluhan yang dialami dan membandingkannya dengan gejala suatu jenis gangguan kesehatan melalui akses internet.

Contoh self diagnose gangguan kesehatan mental yaitu misal ketika merasa sedih dan tak lama merasa senang, kemudian mencari tahu di internet apa yang sebenarnya dialami olehnya.

Nah, di internet ditemukan bahwa mood swing biasanya dialami gangguan bipolar kemudian melabeli dirinya sebagai orang dengan gangguan bipolar.

Padahal langsung menyimpulkan apa yang diketahui tanpa mengonsultasikan lebih spesifik kepada yang professional itu tidak boleh.

Penanganan yang salah pada gejala yang terjadi dapat memperburuk keadaan.

Banyak yang beranggapan bahwa memiliki gangguan kesehatan mental merupakan suatu hal yang keren.

Tidak jarang kita menemukan orang yang seakan akan ingin menunjukkan kesedihannya sebagai bentuk depresi, stress dan lainnya.

Ada juga yang menuliskan di bio media sosialnya bahwa dirinya seorang penyitas gangguan mental padahal sebenarnya bukan.

Tidak hanya itu, bahkan ada yang melakukan hal yang lebih ekstrim seperti menyakiti dirinya sendiri dengan menyayat tangan (cutting) serta mengunggahnya di media sosial untuk mencari perhatian.

Padahal kesehatan mental tidak bisa dianggap sepele. Dan self diagnose juga sangat tidak dianjurkan karena dapat memberikan dampak negative bagi kesehatan mental sendiri.

Dengan melakukan self diagnose, seseorang akan merasa sangat cemas, takut apabila hasilnya menjadi kenyataan dan menjadi stres.

Sehingga orang tersebut akan terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari karena meyakini kebenaran hasil self diagnose yang dilakukan.

Oleh karena itu harus ada tindak lanjut dari hasil self diagnose gangguan mental kepada psikolog ataupun dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Perilaku self diagnose dan pemikiran bahwa memiliki gangguan mental merupakan yang keren harus segera disudahi.

Karena jelas memberikan dampak negatif, dan sudah sepatutnya kita menggunakan internet dengan bijak.

Selain itu kita harus mengkonsultasikan gangguan atau gejala yang dialami kepada yang profesional agar mendapat penangangan yang tepat.

  

Mega Resti Lia Andini

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini