Dika tak menjelaskan detail pendanaan pendidikan untuk KrediBali dari mana. Namun katanya, anak-anak yang sekolah di tempatnya harus membayar sekolah dengan sampah plastik.
Hal ini menjadi misi kedua KrediBali yaitu lingkungan. Di mana anak-anak wajib memilah sampah rumah tangga dan harus dibersihkan.
"Saya dapat edukasi ini di Jepang. Jadi saya mau buang sampah dari apartemen, karena tidak cuci dan langsung buang, saya dipanggil dan didenda. Jadi saya edukasi sampah harus bersih baru dibuang," ujarnya.
Menurutnya, melalui edukasi pada anak, hal ini berimbas pada orang tua mereka. Orang tua pun mau tidak mau menjadi konsen terhadap permasalahan sampah.
"Kalau tidak punya sampah tidak bisa kerja, jadi itu alat tukar untuk sekolah," ujarnya.
Misi ketiga yang ingin dirinya capai sambil anak-anak sekolah adalah kemanusiaan. Di mana hasil dari sampah yang sudah dikumpulkan ditukarkan dengan beras.
"Rumah belajar kita 1 kg sampah dapat 2 kg beras. Jadi beras dikumpulkan diberi ke lansia yang ada di Desa Pemuteran," ujarnya.
Konsep belajarnya ini pun sudah diterapkan di beberap desa di Bali. Di sisi lain, dirinya pun mendapat dukungan dari perusahaan seperti PT Astra International Tbk.
Dika pun diberi apresiasi khusus sebagai pejuang tanpa pamrih di masa Pandemi Covid-19. Anugerah tersebut diterimanya pada 2021.
Tidak hanya itu, aktifitas KrediBali bisa lancar di tengah pandemi setelah berkoordinasi dengan perangkat desa setempat. Syaratnya mematuhi protokol kesehatan dan semua pesertanya menjaga jarak.
Pemerintah Desa Pemuteran bahkan mendukung dengan meminjamkan ruangan rapat untuk sarana belajar. KrediBali secara langsung tidak saja mengajarkan Bahasa Inggris, tapi edukasi untuk peduli lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik, dan masih ditambah mengasah kepekaan sosial dengan memberikan beras bagi sesama umat yang kurang mampu.
(Rani Hardjanti)