Share

Kisah Pejuang Pendidik di Masa Covid-19, dari Batalkan Beasiswa ke Inggris hingga Pilih Ngajar di Desa

Feby Novalius, Okezone · Selasa 22 November 2022 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 22 624 2712574 kisah-pejuang-pendidik-di-masa-covid-19-dari-batalkan-beasiswa-ke-inggris-hingga-pilih-ngajar-di-desa-LE7cpP1zpG.jfif Gede Andika Beri Pembelajaran di Tengah Covid-19. (Foto: Okezone.com/Astra)

BALI - Pandemi Covid-19 mengajarkan banyak hal, utamanya saling memperhatikan satu sama lain. Tidak hanya soal makanan dan kesehatan, tapi sampai pada pendidikan anak-anak turut diperhatikan.

Selama pandemi, anak-anak seluruh Indonesia harus menempuh pembelajaran dari rumah. Namun yang jadi perhatian tidak semua anak bisa mengikuti pola tersebut, karena keterbatasan teknologi dan jaringan internet yang belum memadai.

Hal ini pun dirasakan anak-anak di Desa Pemuteran, Buleleng, Bali. Selama pandemi, anak-anak Pemuteran banyak yang tak bisa sekolah, bahkan memilih putus sekolah karena sulit untuk belajar online.

Kisah dan kondisi desanya pun dibagikan Gede Andika. Pemuda asal Desa Pemuteran, harus kembali ke kampungnya selama pandemi karena kantornya menerapkan work from home.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Selama kerja dari rumah, banyak masyarakat desa yang biasanya bekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mendadak berhenti kerja karena pandemi. Alhasil, warga desanya kembali ke pekerja awal menjadi nelayan dan bertani.

"Di sini saya coba melakukan studi awal untuk mengetahui apa yang terjadi pada desanya karena pandemi . Saya lihat juga banyak pola pikir orang tua di desa bahea pendidikan bukan utama. Sehingga saat ada perubahan belajar online, ya sudah anak-anak di desa diminta membantu ke laut, ke sawah," tuturnya, Bali, Selasa (22/11/2022).

Kredibali

Karena sudah membantu orang tua yang kembali menjadi nelayan dan petani, banyak anak desa memutuskan berhenti sekolah.

Di sinilah titik awal, dirinya merasa terdorong untuk membantu masyarakat terutama anak-anak di desa supaya bisa mendapatkan ilmu pendidikan. Dirinya pun memutuskan untuk membuka kelas pembelajaran di desanya.

Baca Juga: Harapan Pemulihan Ekonomi dengan Mengasah Skill Anak Muda Bersama Astra

"Saya tidak mau adik saya berhenti sekolah, akhirnya dengan tekad kuat awalnya kerja di rumah dan saya dapat beasiswa ke Inggris, jadi tidak diambil. Saya mau mereka tetap sekolah. Saya percaya pendidikan harus diperjuangkan, karena ini menjadi salah satu cara bangkit dari keterpurukan," ujarnya.

Dengan membatalkan beasiswanya ke Inggris, Dika mulai memberi pelajaran yang dinamakan Kredibali (Kreasi, Edukasi, Bahasa dan Literasi).

"Jadi misi saya pertama pendidikan, kedua lingkungan dan kemanusiaan. Saya bangun Kredibali untuk membantu anak-anak putus sekolah, karena tidak dipungkiri kondisi pendidikan Bali masih banyak ketimpangan," ujarnya.

Adapun pembelajaran utama yang diberikan adalah Bahasa Inggris. Belajar Bahasa Inggris menjadi penting karena Bali dengan ragam wisata dan banyaknya turis asing berkunjung.

"Saya masuk supaya anak-anak biasa ngomong sama turis di Desa Pemuteran. Alasan kedua, input baik multiplier effect ke sekitar," ujarnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Dika tak menjelaskan detail pendanaan pendidikan untuk KrediBali dari mana. Namun katanya, anak-anak yang sekolah di tempatnya harus membayar sekolah dengan sampah plastik.

Hal ini menjadi misi kedua KrediBali yaitu lingkungan. Di mana anak-anak wajib memilah sampah rumah tangga dan harus dibersihkan.

"Saya dapat edukasi ini di Jepang. Jadi saya mau buang sampah dari apartemen, karena tidak cuci dan langsung buang, saya dipanggil dan didenda. Jadi saya edukasi sampah harus bersih baru dibuang," ujarnya.

Menurutnya, melalui edukasi pada anak, hal ini berimbas pada orang tua mereka. Orang tua pun mau tidak mau menjadi konsen terhadap permasalahan sampah.

"Kalau tidak punya sampah tidak bisa kerja, jadi itu alat tukar untuk sekolah," ujarnya.

Misi ketiga yang ingin dirinya capai sambil anak-anak sekolah adalah kemanusiaan. Di mana hasil dari sampah yang sudah dikumpulkan ditukarkan dengan beras.

"Rumah belajar kita 1 kg sampah dapat 2 kg beras. Jadi beras dikumpulkan diberi ke lansia yang ada di Desa Pemuteran," ujarnya.

Konsep belajarnya ini pun sudah diterapkan di beberap desa di Bali. Di sisi lain, dirinya pun mendapat dukungan dari perusahaan seperti PT Astra International Tbk.

Dika pun diberi apresiasi khusus sebagai pejuang tanpa pamrih di masa Pandemi Covid-19. Anugerah tersebut diterimanya pada 2021.

Tidak hanya itu, aktifitas KrediBali bisa lancar di tengah pandemi setelah berkoordinasi dengan perangkat desa setempat. Syaratnya mematuhi protokol kesehatan dan semua pesertanya menjaga jarak.

Pemerintah Desa Pemuteran bahkan mendukung dengan meminjamkan ruangan rapat untuk sarana belajar. KrediBali secara langsung tidak saja mengajarkan Bahasa Inggris, tapi edukasi untuk peduli lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik, dan masih ditambah mengasah kepekaan sosial dengan memberikan beras bagi sesama umat yang kurang mampu.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini