Share

Alasan di Balik Seseorang yang Suka Bersikap Sok Tahu Berdasarkan Psikologi

Astri Nur Safariana, Presma · Rabu 16 November 2022 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 65 2708382 alasan-di-balik-seseorang-yang-suka-bersikap-sok-tahu-berdasarkan-psikologi-wfsNx8AE5F.jpg Ilustrasi/Freepik

JAKARTA - Kita pasti pernah mendapati seseorang yang terlalu ikut campur dengan urusan orang lain yang tidak ia ketahui secara jelas.

Kita pasti pernah sekali dua kali menemukan seseorang yang mengaku paling paham dengan suatu topik namun sebenarnya yang ia katakan adalah salah.

Kita pasti pernah menjumpai orang yang sok tahu dan dibuat kesal olehnya. Bahkan mungkin kita pernah menjadi salah satunya.

Ada kemungkinan kita menjadi orang yang sok tahu karena fenomena ini sudah familier untuk terjadi. Pernahkah Anda memperoleh kritik pada hal yang sama berulang-ulang namun tidak pernah Anda hiraukan barang sejenak?

Jika jawabannya adalah iya atau mungkin, bisa jadi Anda pernah melakukannya sekali, dua kali, atau lebih. Siapa tahu?

Namun, hal tersebut bukan berarti Anda telah berbuat kejahatan karena sok tahu wajar terjadi pada siapa saja. Bagaimana bisa? Berikut akan dibahas penjelasannya.

Fenomena sok tahu banyak diuraikan dengan menyebut efek Dunning-Kruger. Efek ini dijelaskan dalam psikologi sebagai kurangnya kemampuan metakognitif dalam menilai proses berpikir dalam diri seseorang sehingga muncul bias kognitif ketika orang-orang dengan kemampuan metakognitif yang terbatas akan melebih-lebihkan kompetensi atau pengetahuannya sendiri.

Dari tokoh teori ini, Dunning dan Kruger, disebutkan bahwa orang dengan tingkat kompetensi rendah akan menilai diri mereka lebih kompeten daripada yang sebenarnya, sedangkan mereka yang mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi akan meremehkan keunggulan mereka.

Bukan hanya mengenai kompetensi, melainkan konsep, keterampilan, dan pengalaman juga dapat menjadi bagian dari efek ini. Akibatnya, seseorang tidak menyadari ketidaktahuannya tersebut karena kemampuan metakognisinya yang kurang.

Kita tidak akan menyebut orang lain sok tahu apabila kita memiliki tingkat pemahaman yang sama dengan orang tersebut. Bahkan, mungkin saja kita dibuat kagum hanya karena melihat ia yang begitu cemerlang mengungkapkan apa yang ia tahu.

Sebaliknya, apabila kita pada kenyataannya jauh lebih memahami dibandingkan orang tersebut, kita cenderung dibuat kesal atau barangkali terbahak karena apa yang dikatakannya hanyalah omong kosong.

Hal ini sama konsepnya dengan peribahasa 'tong kosong nyaring bunyinya'.

Fenomena ini sering terjadi karena beberapa faktor. Kita hidup dalam lingkungan yang mengagung-agungkan pengetahuan.

Ketika kita terlihat bodoh, kita cenderung mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang terlihat pintar.

Karena itu, banyak orang memilih untuk menghindari risiko kehilangan atensi dari orang di sekitarnya apabila terlihat kurang tahu atau kurang kompeten.

Bahkan, orang yang sudah pintar saja dapat memiliki kemungkinan untuk melebih-lebihkan pengetahuannya.

Salah satu kebutuhan alami manusia adalah validasi, wajar saja jika orang-orang tidak ingin kehilangan penghargaan dari sekitarnya.

Lingkungan yang terlalu menuntut seseorang untuk menjadi pintar menyebabkan orang tersebut memiliki presisi yang berlebihan, disebut juga sebagai bentuk kepercayaan diri yang terlalu tinggi.

Seseorang dapat terlihat pintar dan kompeten hanya dari kepercayaan dirinya. Orang yang memiliki presisi yang berlebihan ini didorong oleh keinginan untuk memiliki status dan kekuasaan serta kebutuhan untuk tampil lebih baik dari orang-orang di sekitar mereka.

Padahal, hal tersebut dapat memunculkan konsekuensi yang berbahaya. Contohnya seperti seorang atlet yang overestimate dengan kemampuannya terlanjur mengambil risiko dan memaksakan diri melampaui batas maksimalnya, sehingga mendorong dirinya sendiri untuk mengalami cedera.

Hal tersebut malah mendatangkan bahaya pada dirinya sendiri.

Jelas jika orang yang diikutcampuri urusannya merasa kesal karena orang yang ikut campur tersebut pasti kurang tahu banyak dengan apa yang dijalaninya.

Sudah jelas pula apabila seseorang akan menertawakan opini yang kita utarakan mengenai bidang yang mereka tekuni.

Banyak kita temui orang-orang di internet maupun di dunia nyata yang mengkritik keahlian profesi tertentu yang memang orang tersebut hanya masyarakat awam tanpa sertifikasi resmi mengenai bidang yang mereka kritisi.

Alhasil, mereka menanggung malu karena tingkah mereka yang sok tahu tersebut.

Untuk menghindari efek Dunning-Kruger, kita dapat melatih kemampuan metakognisi kita sendiri.

Bahasa lainnya, jujur dan rutin mempertanyakan basis pengetahuan dan kesimpulan yang kita dapatkan.

Apakah masih terdapat celah dalam pemahaman kita? Adakah bagian yang perlu diperbaiki? Mempelajari lebih lanjut mengenai topik, konsep, atau apapun itu dapat menjadi kunci.

Semakin kita paham mengenai sesuatu, semakin kita paham bagaimana cara menyampaikan pemahaman kita tersebut dengan cara yang jauh lebih baik dibandingkan dengan menjadi orang yang sok tahu.

Kebebasan berpendapat memang ada. Boleh-boleh saja kita mengutarakan apa yang kita pahami. Namun, akan jauh lebih baik apabila kita juga memperhatikan mereka yang memiliki sudut pandang yang berbeda.

Perasaan malu yang didapat ketika kita sadar bahwa apa yang kita koarkan sebelumnya merupakan hal yang kurang tepat dapat dijadikan sebagai kesempatan membangun niat untuk belajar dan berkembang.

Bersikaplah terbuka terhadap kritik yang membangun. Tahan diri untuk menjadi defensif, tahu dengan pasti kapan menggunakan kepercayaan diri.

Berpura-pura mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui tidak seharusnya menjadi prioritas. Bertindak jujur akan mendatangkan validasi yang lebih memuaskan untuk kita sendiri.

Astri Nur Safariana

 

Aktivis Persma Eryhthro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini