JAKARTA - Bangsa Sumeria, Maya, dan peradaban budaya kuno lain telah menciptakan teks yang bertahan ratusan bahkan ribuan tahun. Inilah yang mereka ajarkan kepada kita tentang cara menyusun tulisan yang abadi.
Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, di sebuah kuil di kota Borsippa, Mesopotamia kuno, sekarang disebut Irak, seorang murid sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Namanya Nabu-kusurshu dan dia dilatih untuk menjadi pembuat bir kuil.
Tugasnya selain membuat bir untuk acara keagamaan adalah belajar untuk menyimpan catatan administrasi pada tablet tanah liat dalam Cuneiform atau aksara paku (jenis tulisan kuno berbentuk paku).
Ditambah, dia juga melestarikan gita pujian kuno dengan cara membuat salinan dari tablet usang.
Pengabdiannya pada bir, tulisan, dan pengetahuan, menjadikan peninggalan Nabu-kusurshu bagian dari warisan sastra yang luar biasa tangguh.
Cuneiform sudah ada selama kira-kira 3.000 tahun pada saat Nabu-kusurshu mengoreskan pena ukirnya.
Aksara ini ditemukan oleh bangsa Sumeria, yang awalnya menggunakannya untuk mencatat jatah makanan dan memang, bir yang dibayarkan kepada pekerja atau dikirim ke kuil.
Seiring perkembangannya, teks-teks Sumeria menjadi lebih kompleks.
Tulisan ini juga merekam mitos dan lagu yang indah – termasuk merayakan dewi pembuatan bir, Ninkasi, dan keterampilannya menggunakan "tong fermentasi, yang menghasilkan suara yang menyenangkan".
Ketika bahasa Sumeria berangsur-angsur disingkirkan dan digantikan oleh Akkadia yang lebih modern, juru tulis dengan cerdik menulis daftar panjang tanda dalam kedua bahasa, seperti membuat kamus kuno untuk memastikan nasihat kebijaksanaan dalam tablet tertua akan selalu dipahami.
Generasi Nabu-kusurshu, yang akan berbicara dalam bahasa Akkadia atau mungkin Aram dalam kehidupan sehari-hari, adalah yang terakhir menggunakan aksara Cuneiform.
Saat itu, Nabu-kusurshu mungkin berasumsi bahwa dia hanyalah seorang penulis muda biasa dalam barisan panjang penulis.