Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pakar Bahasa Tubuh Harvard University Ungkap 3 Tanda Perilaku Pasif-Agresif dan Kekanak-kanakan

Natalia Bulan , Jurnalis-Senin, 26 September 2022 |10:40 WIB
Pakar Bahasa Tubuh Harvard University Ungkap 3 Tanda Perilaku Pasif-Agresif dan Kekanak-kanakan
3 tanda perilaku pasif-agresif/Freepik
A
A
A

JAKARTA - Berikut ini adalah 3 tanda perilaku pasif-agresif dan kekanak-kanakan yang diungkapkan oleh pakar bahasa tubuh dari Harvard University.

Kita semua harus berurusan dengan agresivitas pasif di beberapa titik. Seperti seorang bos yang mengangkat alis meremehkan ketika Anda berbicara, atau seorang teman mengeluarkan Anda dari percakapan saat makan siang bersama.

Namun, hal tersebut garisnya masih kabur dan perlu diteliti berdasarkan bahasa tubuh serta komunikasi.

Erica Dhawan sebagai Pakar Bahasa Tubuh dari Harvard University pun melakukan penelitian ini dan ia menemukan tiga tanda pasif-agresif atau kekanak-kanakan berdasarkan cara merespons seseorang terhadap sesuatu.

Simak selengkapnya di sini!

 

1. Jawaban singkat yang ekstrem

Ketika mengirim e-mail kepada atasan dan menanyakan sesuatu terkait perkerjaan dan membutuhkan follow up lebih lanjut dan mereka menjawab dengan singkat, jawaban satu kata seperti 'ya', 'baik', atau 'ok'.

Beberapa orang memang lebih suka memberikan jawaban yang singkat dan langsung pada intinya.

Namun, jika Anda memperhatikan bahwa mereka kebanyakan merespons dengan cara singkat ini kepada Anda dan bukan kepada orang lain, maka tingkat singkatnya ini merupakan indikasi pasif-agresif.

Bagaimana menanggapinya?

- Ajukan pertanyaan klarifikasi seperti; "Terima kasih! Hari dan waktu apa yang paling cocok untuk Anda?" atau "Apakah ada orang lain yang harus saya undang?"

- Tetap tenang: jangan termakan umpan. Tetap fokus di masa sekarang dan hindari bertindak defensif.

- Gunakan humor: humor adalah cara yang bagus untuk meredakan ketegangan.

- Tangani dengan lembut: ini dapat membantu dalam beberapa kasus. Tujuannya adalah untuk menunjukkan niat yang tulus dan keinginan untuk memahami; "Saya merasa Anda mungkin marah kepada saya. Apakah ini benar?"

2. Respons lambat

Mendapatkan perlakuan diam dapat muncul sebagai e-mail atau teks yang tertunda, atau bahkan perilaku ghosting.

Berada di pihak penerima tindakan ini dapat memicu apa yang disebut 'kecemasan waktu', kekhawatiran yang intens yang dirasakan ketika mendapati diri kita bertanya-tanya tentang semua kemungkinan makan di balik respons yang lambat.

Sayangnya, tidak ada aturan keras dan cepat untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang menggunakan keheningan sebagai kesengajaan, atau apakah itu hanya sebuah kekhilafan.

Bagaimana menanggapinya?

- Jangan langsung mengambil kesimpulan: kecuali sangat penting bagi Anda untuk mendapatkan balasan secepatnya. Ingatlah bahwa Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami seseorang. Mungkin mereka memiliki banyak hal, atau sedang berurusan dengan masalah pribadi.

- Kirim pengingat lembut: beberapa orang benar-benar lupa, jadi tindak lanjut dapat membantu.

- Beralih ke mode komunikasi yang berbeda: jika Anda menindaklanjuti dua kali tanpa tanggapan, coba kirim DM kantor alih-alih e-mail.

3. Perubahan dari bahasa informal ke bahasa formal

Jika Anda mengirim SMS dan e-mail dengan seseorang dan mereka mengubah nada bicara mereka dari informal menjadi formal entah dari mana, itu mungkin berarti mereka mencoba untuk menegaskan kekuasaan.

Situasi serupa mungkin terjadi pada seorang teman yang tiba-tiba menjadi sangat dingin atau acuh dalam bahasa mereka karena teks. Misalnya, beralih dari “Ya, kedengarannya menyenangkan!” untuk “Tentu, apa pun.”

Bagaimana menanggapinya?

- Jangan secara otomatis beramsumsi bahwa mereka marah kepada Anda: sangat mudah untuk menyimpulkan bahwa Anda dipilih, tetapi seringkali tidak demikian. Faktanya, perilaku mereka mungkin tidak ada hubungannya dengan Anda.

- Jangkau melalui telepon, obrolan video, atau secara langsung: sulit untuk menguraikan bagaimana perasaan seseorang yang sebenarnya melalui komunikasi digital. Jangkau dengan cara yang lebih ramah dan jelaskan sumber kecemasan Anda. Jangan meminta maaf atau menuduh. Jujur saja dan minta klarifikasi. Ini akan membantu Anda membangun kepercayaan dan koneksi, terlepas dari jarak.

(Natalia Bulan)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement