“Pada akhirnya, apa yang kami inginkan adalah menghadirkan elemen-elemen dunia nyata dan membuatnya bereaksi terhadap elemen-elemen di ruang realitas tertambahkan. Seiring berkembangnya teknologi, kami ingin memanfaatkan alat-alat yang benar-benar dapat kami gunakan pada pasien,” imbuh Martin.
Untuk saat ini, baru satu modul tersedia. Modul ini berfokus pada kondisi pernapasan.
Mahasiswa medis bisa belajar mendeteksi dan mengatasi berbagai gangguan seperti asma, anafilaksis, emboli paru dan pneumonia.
Dalam jangka panjang, semakin banyak modul akan dibuat, dan serangkaian skenario akan tersedia.
Setiap modul akan memiliki tingkat kerumitan yang berbeda, mulai dari mode yang hanya dapat melihat, mode dengan keputusan terbantu, hingga mode ahli.
Cambridge University juga akan melakukan penelitian untuk mengevaluasi dampak proyek ini baik pada mahasiswa maupun pasien.
(Natalia Bulan)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik