BANDUNG - Provinsi Jawa Barat menggulirkan program Sekolah Swasta Peduli Dhuafa untuk angkat derajat pendidikan peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Melalui program tersebut, setiap sekolah swasta di Jabar diharapkan untuk menyiapkan kuota khusus, termasuk pembebasan biaya pendidikan selama para siswa miskin menjalani pendidikannya hingga lulus.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyebutkan bahwa program ini kemungkinan akan ada ribuan siswa dari keluarga kurang mampu yang dapat melanjutkan sekolah di bangku SMA/SMK/SLB secara gratis.
"Tahun ini kita bikin program Sekolah Swasta Peduli Dhuafa. Kemungkinan akan ribu-ribu anak dhuafa yang nanti sekolahnya di swasta, tidak perlu bayar sama sekali selama 1-3 tahun. Nah ini gotong royong yang luar biasa," tutur Ridwan Kamil dalam keterangannya, Rabu (8/6/2022).
Menurut Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu, tahun lalu, hanya sekitar 70 siswa miskin yang mendapatkan fasilitas sekolah gratis ini. Tahun ini, seiring ratusan sekolah swasta yang akan turut berpartisipasi, ribuan siswa miskin diprediksi bakal mendapatkan fasilitas istimewa ini.
"Sekarang ratusan sekolah mau bergabung dan hasil hitungan kita tadi saja satu kota sudah 700-an kursi gratis. Kalikan 27, saya asumsikan kan beribu-ribu, di atas 5.000 kira-kira," katanya.
Ridwan Kamil pun berharap, pelaksanaan PPDB 2022 menjadi yang paling adil dan transparan. Terlebih, Pemprov Jabar melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar pun sudah merancang bahwa PPDB 2022 dapat membela siswa miskin.
"Salah satu pembelaan warga miskin di Jabar adalah dengan memberikan bantuan keuangan kepada warga miskin yang sekolahnya di swasta. Mau sekolah negeri swasta sama saja, kesuksesan tidak selalu diukur oleh sekolah formal," katanya.
Sementara itu, Kepala Disdik Jabar, Dedi Supandi mengatakan, sejak tahun lalu, pihaknya telah membuka upaya agar yayasan atau sekolah swasta turut membantu siswa miskin dengan menggratiskan biaya sekolah.
"Ternyata, ketika (pertemuan) virtual, ada 21 sekolah dan yayasan SMA/SMK swasta di Kota Bandung dengan total kuotanya mencapai 748. Mereka siap menampung dan menggratiskan warga miskin selama tiga tahun," ungkapnya.
Menurut Dedi, jika jumlah sekolah swasta yang bergabung bertambah, maka program ini menjadi solusi besar di sektor pendidikan, agar siswa miskin di Jabar dalam melanjutkan jenjang pendidikannya di SMA, SMK, maupun SLB.
"Karena di masa pandemi COVID-19, yang miskin bertambah banyak. Artinya, ada warga miskin baru, sementara jumlah sekolah negeri juga terbatas, maka harus dibuka inovasi tersebut," katanya.
Adapun sejumlah sekolah swasta yang telah mengusulkan untuk mengikuti program Sekolah Swasta Peduli Dhuafa/Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM), di antaranya:
SMAS Muhammadiyah 1, jenjang SMA rencana 25 siswa.
SMA Mutiara 1 Bandung, rencana 15 siswa
SMA Budi Istri.
SMA Tunas Unggul Bandung, rencana 2 siswa.
SMA Nugaraha Bandung, rencana 12 siswa
SMA Baitturahman, rencana 10 siswa
SMA LPPN, rencana 15 siswa
Kemah IND 2, rencana 60 siswa
Pasundan 5 Bandung, rencana 50 siswa
SMK Vijaya Kusuma Bandung, rencana 30 siswa
SMK YAS Bandung, rencana 15
SMK Nasional Bandung, rencana 65 siswa
SMK Plus Darussurur Cimahi, rencana 100 siswa
SMA Muhammadiyah 1 Cimahi, rencana 60 siswa
SMA Kartika XIX -4 Cimahi, rencana 35 siswa
SMK Bina Sarana Cendikia Bandung, rencana 35 siswa
SMK ICB Cinta Teknika Bandung, rencana 65 siswa
(Natalia Bulan)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik