Share

Mengintip Ponpes Khusus Tunarungu di Temanggung

Didik Dono, iNews · Senin 28 Maret 2022 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 28 624 2569129 mengintip-ponpes-khusus-tunarungu-di-temanggung-k5VOOOsiZD.jfif Ponpes Abata khusus tunarungu di Temanggung. (iNews/Dono Hartono)

TEMANGGUNG – Pesantren Abata yang terletak di Kelurahan Manding, Kecamatan Temanggung, Jawa Tengah, berbeda dengan pesantren umumnya. Dengan konsep islamic boarding school tunarungu, Pesantren Abata menjadi rintisan pesantren tunarungu gratis pertama di Indonesia dengan metode yang terpadu.

Di sana setiap harinya para santri melakukan terapi wicara dari guru yang telah bersertifikat.

Terapi dengan metode lips reading atau visual phoenik sehingga semua materi divisualkan. Santri diharapkan bisa berkomunikasi secara verbal.

Proses terapi wicara menjadi bagian sangat penting bagi para santri agar dapat melakukan komunikasi kepada orang lain, tidak hanya kepada sesama disabilitas.

Para santri juga dibekali kegiatan mengaji sehingga bisa melafalkan surat-surat Alquran. Para pengajar secara tekun melatih mereka.

Di pesantren ini terdapat berbagai kelas sesuai dengan umur dari para santri. Kurikulum yang diajarkan merupakan kurikulum tersendiri, berbeda dengan kurikulum kebanyakan karena keterbatasan para santri berkomunikasi.

Karena keterbatasan tempat dan asrama, Pesantren Abata hanya mampu menampung 40 santri perempuan. Pesantren Abata menyelenggarakan pendidikan secara gratis tanpa dipungut biaya.

Salah satu santri, Anin asal Wonosobo, mengaku awalnya susah mengikuti pelajaran di pesantren ini. Materi yang diajarkan banyak, tapi dia sangat suka belajar menggambar, tema, dan matematika.

“Agama, tema, matematika, hafalan mengaji, menggambar, melukis,” katanya, Minggu (27/3/2022).

Senada dengan Anin, Zanuba, salah satu santri dari Semarang mengaku sangat senang mengikuti pendidikan di Pesantren Abata ini. Dia paling senang bekajar hafalan semua pelajaran.

Pesantren Abata ini merupakan rintisan Mukhlisin Nuryanta, yang awalnya merasa kesulitan untuk mendapatkan pendidikan bagi putri sulungnya yang mengalami tunarungu sejak berusia 3 tahun.

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya sekitar 4 tahun lalu pesantren ini masih berupa sanggar belajar untuk anak tunarungu wicara bernama Rumah Abata.

Lalu berubah menjadi pesantren karena pihak pengelola menilai anak tunarungu wicara juga butuh ilmu tentang beribadah yang benar dan berlatih konsisten melaksanakan jadwal ibadah.

Pesantren ini membuat kurikulum sendiri. Para penyandang disabilitas akan melewati masa pendidikan 6 tahun setingkat SD. Para santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, diberi pembekalan keterampilan dan penguatan ibadah.

Sementara ini Pesantren abata masih menginduk ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Melati untuk kepengurusan ijazah santrinya.

Hingga saat ini Pesantren Abata masih berfokus untuk menambah jumlah para santri dan tidak terbatas hanya untuk santri putri.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini