SOLO - Pakar kesehatan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dr Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK, PhD menyebutkan bahwa pemberian vaksin "booster" (penguat) untuk Covid-19 harus memerhatikan kondisi individu.
"Secara ilmiah kapan seseorang perlu booster, mestinya perlu tes dulu. Apakah orang tersebut antibodinya turun berapa, tetapi saat ini kita belum berada pada titik orang per orang berapa antibodi yang dimiliki, maka lebih dikedepankan masa waktunya," kata Staf Pengajar Patologi Klinik Fakultas Kedokteran (FK) UNS itu di Solo, Jawa Tengah, Jumat (7/1).
Jika pemerintah mengatakan suntikan booster atau tambahan ini diberikan setelah enam bulan dari suntikan kedua, ia mendorong suntikan bisa diberikan 12 bulan setelah suntikan kedua.
"Kami mendorong waktunya 12 bulan lebih rasional," terangnya.
Baca juga: Mahasiswa UNS Sukses Bisnis Madu, Raup Untung Puluhan Juta
Dia menjelaskan pemberian booster untuk penyintas secara ilmiah seharusnya memperhatikan antibodi masing-masing individu.
"Penyintas kan jumlah virusnya beda, gejala beda, antibodi yang terbentuk juga variatif. Ada penyintas yang antibodinya tinggi, ada yang rendah. Khususnya yang tanpa gejala antibodi cenderung rendah," katanya.
Baca juga: UNS Tambah Jumlah Guru Besar, Rektor: Kado Istimewa Akhir Tahun
Ia mengatakan individu dengan imunitas terkuat adalah orang yang pernah divaksin dan pernah terinfeksi karena memiliki antibodi ganda.