Share

Dunia Metaverse Bukan Media Baru, Ini Penjelasan Pakar Unair

Aan haryono, Koran SI · Selasa 28 Desember 2021 10:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 28 65 2523618 dunia-metaverse-bukan-media-baru-ini-penjelasan-pakar-unair-VJq3LuoMSt.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

SURABAYA - Pembahasan Metaverse tengah ramai diperbincangkan akibat klaim Mark Zuckerberg yang menyebutnya sebagai dunia masa depan. Metaverse merupakan gabungan antara aspek virtual reality (VR), augmented reality (AR), media sosial, dan juga mata uang kripto untuk memungkinkan pengguna berinteraksi dalam realitas digital.

Pakar kajian media Universitas Airlangga (Unair) Prof. Rachmah Ida, Ph.D menuturkan, semua itu sebagai perkembangan dari konsep yang telah ada sebelumnya.

BACA JUGA: Metaverse Bukan Teknologi Menarik, Elon Musk Ungkap Alasannya

"Konsep Metaverse bukan benar-benar baru, sebab pada tahun 2003 sudah ada dunia virtual bernama Second Life yang menawarkan adanya konsep virtual community yang dibuat dengan maksud menghubungkan orang tanpa harus bertemu secara langsung," katanya, Senin (27/12/2021).

Keberhasilan Second Life terlihat saat perusahaan sekelas International Business Machine Corporation (IBM), serta ratusan perusahaan lainnya berbondong-bondong mendirikan kantor virtual di sana. "Sedangkan di dunia pendidikan, Stanford, MIT, Monash mencoba membuat virtual campus yang dibangun menggunakan Second Life," jelas Guru Besar bidang Kajian Media pertama di Indonesia tersebut.

Meski populer di luar negeri, saat itu virtual world belum mendapatkan perhatian khusus di hati masyarakat Indonesia. Namun, demi membuka mata mahasiswa akan luasnya dunia media, Prof Ida mengajarkan seluruh mahasiswa S2 Media dan Komunikasi Unair untuk membuat akun dan berkelana di SimCity dan Second Life.

BACA JUGA: Ingatkan NU Antisipasi Era Metaverse, Jokowi: Nanti Semuanya Dakwah dan Pengajian Virtual

"Kendalanya ya tetap di infrastruktur karena membutuhkan kapasitas komputer yang sangat besar, dan internet yang memadai," kenangnya.

Serupa dengan Second Life di masa itu, teknologi Metaverse juga sebaiknya didukung oleh infrastruktur dan jaringan internet yang stabil. "Harus didukung oleh infrastruktur dan jaringan yang established. Kalau internet sebagai jalurnya saja tidak stabil, akan susah untuk ikut serta dalam Metaverse," jelasnya.

Jika menengok lebih jauh, rupanya teknologi semacam Secondlife, SimCity, bahkan Metaverse sebenarnya terinspirasi oleh novel-novel science fiction seperti Frankenstein, Snow Crash, serta Ready Player One.

"Di situ media realitas virtual dijadikan medium melarikan diri atau escape dari dunia yang sedang mengalami kondisi mengerikan dan menakutkan," ucapnya.

Meskipun serupa, Second Life dan SimCity dikatakan memiliki perbedaan yang signifikan dengan platform besutan Mark Zuckerberg itu. “Metaverse adalah pengembangan dari konsep-konsep virtual world yang pernah ada,” kata Ida.

Ia juga berpendapat, bahwa Metaverse diterima secara segmented di Indonesia. Kalangan muda urban yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi, memiliki resources ekonomi dan senang mencoba hal baru, akan menjadi pengadopsi inovasi awal atau disebut early adopter.

“Lalu, untuk kalangan yang tidak melek teknologi, terus mungkin juga tidak ada resources, dan masih menggunakan konsep gemeinschaft (paguyuban) dan gesselschaft (patembayan) meskipun teknologi digital sudah maju, nantinya akan sulit untuk ikut serta dalam inovasi media ini,” imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini