Mitos Kemiskinan, Prof Bagong: Panas-Panasan di Pinggir Jalan Itu Pekerjaan Berat

Tim Okezone, Okezone · Rabu 27 Oktober 2021 15:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 27 65 2492636 mitos-kemiskinan-prof-bagong-panas-panasan-di-pinggir-jalan-itu-pekerjaan-berat-Dkn3UntgbF.jpeg Guru Besar dan Dekan FISIP Unair Prof Bagong Suyanto (Foto: Ist)

JAKARTA - Siapa yang ingin hidup miskin? Tentu tak satu pun dari kita ingin hidup dalam kemiskinan. Konon, jika kita malas bekerja, hidup akan jadi lebih sulit. Lantas bagaimana kemiskinan dan kemalasan saling berkaitan?

Dari kacamata Ilmu Sosiologi, ada dua pandangan mengenai sebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan dianggap bersumber dari hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik psikologis kultural individu. Contohnya malas atau tidak punya etos wirausaha.

Baca Juga:  Wapres Maruf Amin Ungkap Tantangan Penanganan Kemiskinan Ekstrem

Kedua, kemiskinan muncul dari faktor-faktor struktural. Seperti kurangnya kesempatan dan kompetisi yang terlalu ketat atau tidak memiliki modal usaha.

Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si. angkat bicara. Menurutnya, miskin dan malas tidak berhubungan. Sebab, jelasnya, kemiskinan terjadi karena faktor-faktor yang sifatnya struktural dari pada kultural.

“Kita terbiasa menghakimi orang yang miskin sebagai orang yang malas atau tidak mau bekerja keras. Padahal, jika kita lihat pengemis di pinggir jalan, panas-panas, pakai pakaian badut menari-nari. Itu kan pekerjaan yang berat sebetulnya,” tutur Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu dikutip dari situs resmi Unair, Rabu (27/10/2021).

Jika dibandingkan, kata Prof Bagong, pekerjaan di sektor informal bahkan lebih keras daripada pekerjaan kelas menengah. Namun, karena ketidakmampuan pendidikan ditambah minimnya akses jaringan memaksa kaum miskin untuk bertahan.

Baca Juga: Pemerintah Kejar Target Nol Persen Kemiskinan Ekstrem di 2024

Sementara itu, sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia pada 2019 lalu mengungkap, anak-anak dari keluarga miskin, ketika dewasa akan tetap miskin. Hal itu, jelas Prof Bagong, menunjukkan bahwa mata rantai kemiskinan memang sulit diputus.

“Karena keluarga miskin tidak memiliki modal ekonomi yang cukup dan tidak sekolah dengan baik, ujung-ujungnya dia kembali miskin. Peluang mereka untuk naik kelas tidak bisa ditembus karena tidak punya modal sosial dan ekonomi yang cukup,” paparnya.

Dekan FISIP Unair itu juga menyampaikan bahwa selain faktor struktural yang tidak ramah, kebijakan pemerintah bersifat meritokrasi. Di mana, belum berpihak untuk melindungi si miskin.

Berbeda dengan yang terjadi di Kota Bontang. Pemda melarang waralaba seperti Indomaret dan Alfamart masuk. Hasilnya, usaha-usaha kecil dari masyarakat setempat tumbuh.

“Kebijakan meritokrasi itu intinya orang miskin diberi bantuan, soal bagaimana mereka bertahan hidup menghadapi struktur yang kompetitif terserah pada semangatnya orang miskin,” imbuhnya.

Prof Bagong menjelaskan, kemunculan istilah miskin sendiri berkaitan erat dengan stratifikasi (Pengelompokkan anggota masyarakat secara vertikal, Red) dan kesadaran kelas. “Kemiskinan terjadi ketika orang sadar akan kelasnya. Dia dimana. Ini yang membuat isu kemiskinan dikaitkan dengan isu stratifikasi,” ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini