Kisah Sukses Subway, Restoran Sandwich Hasil Duet Seorang Mahasiswa dan Ahli Fisika Nuklir

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 15 Oktober 2021 17:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 65 2486993 kisah-sukses-subway-restoran-sandwich-hasil-duet-seorang-mahasiswa-dan-ahli-fisika-nuklir-8Y4W8dw5XO.jpg Salah satu pendiri Subway Fred DeLuca (Foto: AFP)

NEW YORK – Siapa menyangka jika ahli fisika nuklir piawai membuat sandwich dan laris manis di jagat raya. Sandwich ini menjelma menjadi restoran saji yang menggurita dan memiliki cabang hampir di seluruh dunia.

Pertemuan antara ahli fisikawan nuklir Peter Buck dan Frederick DeLuca muda yang kala itu menjadi mahasiswa terjadi tanpa sengaja.

Awalnya DeLuca ingin kuliah di jurusan kedokteran. Namun kemudian dia menyadari jika uangnya tidak cukup banyak untuk bisa membiayai kuliahnya itu.

Menurut New York Times, selama masa kecilnya, DeLuca menghabiskan sebagian besar waktunya di Bronx, sebuah wilayah di New York City. Sedangkan ayahnya adalah seorang pekerja pabrik. Pada usia 10 tahun, keluarga tersebut pindah ke daerah Schenectady sebelum menetap di Bridgeport, Connecticut.

(Baca juga: Memahami Profesi Ahli Fisika)

Setelah lulus dari Central High School pada 1965, DeLuca bekerja di sebuah toko perangkat keras untuk mengumpulkan dana yang cukup untuk mengejar mimpinya belajar kedokteran. Namun, dia dengan cepat mengetahui bahwa gajinya tidak akan menutupi biaya kuliah yang besar.

Pemuda berusia 17 tahun itu pun terpaksa mencari cara alternatif untuk membiayai pendidikannya. Saat itulah dia memulai percakapan dengan teman keluarganya dan juga Buck.

Jalan DeLuca menuju kesuksesan dan kekayaan miliaran dari mengubah satu toko sandwich menjadi apa yang sekarang menjadi raksasa makanan cepat saji dimulai dengan awal yang sederhana.

(Baca juga: Pakar Fisika IPB University: Materi di Alam Semesta yang Terlihat Hanya 4%)

Buck menyarankan agar dia membuka toko sandwich kapal selam dan memberikan investasi awal sebesar USD1.000 (Rp14 juta) untuk bisnis bersama-sama.

Pada 1965, keduanya pun sepakat menjalin hubungan bisnis yang menghasilkan rantai sandwich ‘kapal selam’ terbesar di dunia yang dikenal dengan sandwich "terpanjang".

Keduanya pun mendirikan toko sandwich pertama, "Pete's Super Submarines," di Bridgeport, Connecticut. Toko tersebut menjual lebih dari 300 sandwich pada hari pertama dibuka dengan harga masing-masing antara 49 dan 69 sen.

Seiring waktu berjalan, nama restoran diubah menjadi "Subway" pada 1968. Keduanya memutuskan untuk mendorong pertumbuhan dengan waralaba atau membiarkan orang lain membuka toko Subway dengan imbalan biaya. Pada 1988, Subway memiliki 2.000 lokasi. Pada 1990, ritel ini memiliki 5.000 toko. Lalu pada 1994, jumlahnya mencapai lebih dari 8.000 lokasi.

Times melaporkan DeLuca, penduduk asli Brooklyn, dikenal karena pendekatan langsung sebagai Presiden dan CEO. Dia secara pribadi menandatangani cek perusahaan, membuat keputusan perusahaan dan berkeliling ke berbagai waralaba di seluruh negeri.

Pada Juli 2013, Subway mengumumkan DeLuca telah didiagnosis menderita leukemia.

Menurut perusahaan, DeLuca melakukan kontak rutin dengan tim manajemennya, tetapi intensitasnya semakin berkurang saat ia menerima perawatan. DeLuca meninggal dua tahun kemudian, hanya beberapa minggu setelah peringatan 50 tahun Subway.

Subway yang berbasis di Milford, Connecticut, dimiliki secara pribadi dan tidak secara publik melaporkan kinerja keuangan atau paket pembayaran eksekutifnya. Namun pada 2015, majalah Forbes mematok kekayaan bersih DeLuca sebesar USD3,5 miliar (Rp49 triliun), menjadikannya individu terkaya ke-259 di Amerika Serikat (AS).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini