Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital (2)

MNC Portal, · Jum'at 02 Juli 2021 10:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 65 2434316 digitalisasi-masih-adakah-ruang-untuk-buku-fisik-3h9EQxpgCm.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

Digitalisasi, Masih Adakah Ruang Untuk Buku Fisik?

Di tengah era digitalisasi, nyatanya tak semua hal yang berbau digital yang menjadi pilihan. Buku fisik pun masih memiliki peluang untuk mendapat tempat di hati Gen Z. Hal tersebut tergambar dalam hasil survei yang dilakukan Litbang MPI pada 27-28 Juni 2021 lalu. Dari survei tersebut sebanyak 67,9 % responden mengaku lebih menyukai jenis buku fisik. Sementara, 32,1 % lainnya memiliki buku digital atau e-book.

Demita, Mahasiswi Psikologi salah satu perguruan tinggi swasta juga mengaku tak sepenuhnya tak bisa meninggalkan buku fisik. Sesekali perempuan 20 tahun ini membaca buku fisik bertemakan remaja. Namun memang intensitasnya jauh lebih rendah dibandingkan membaca e-book.

Baca juga: Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital

“Saya merasa, mencari informasi lewat telefon genggam memang lebih praktis. Apalagi, sekarang masih pandemi. Materi yang diberikan dosen semua berbasis soft file. Tapi bukan berarti buku fisik saya lupakan,” ujarnya.

Devie Rahmawati melihat fenomena ini sebagai hal yang wajar. Menurutnya, buku fisik bisa memberikan pengalaman yang berbeda. Belum lagi aroma buku yang mereka rasakan itu memberikan pengalaman baru.

Foto: Okezone.com

“Kalau setiap hari yang dilihat adalah gawai, maka mereka sudah terlalu lelah dan memiliki digital fatigue,” ujarnya.

Baca juga: Gen Z Miliki Pemahaman Mendalam Tentang Teknologi

Optimisme terhadap peluang buku fisik juga diungkapkan Koordinator Kelompok Substansi Pengembangan Kegemaran Membaca dan Literasi Perpusnas, Rudi Hernanda. Menurutnya, minat terhadap buku cetak saat ini masih tinggi. Rudi juga menambahkan bahwa minat baca anak Gen Z saat ini masih bisa dibilang cukup baik, khususnya di masa pandemi seperti sekarang ini.

“Kajian yang kita lakukan, 78 % masyarakat lebih memilih untuk membaca buku di rumah,” katanya.

Perpusnas sendiri memiliki sebuah aplikasi digital dengan nama iPusnas. Semenjak pandemi merebak pada awal Maret 2020 lalu, pengunjung iPusnas melonjak hingga 30-40%. Lonjakan tersebut juga dipicu dari adanya kebijakan pemerintah soal pemberlakukan belajar secara daring.

“Jika kita perhatikan akun yang registrasi di iPusnas itu selama pandemi mengalami penambahan signifikan” jelas Rudi.

Menapaki era digitalisasi yang semakin tak terbendung juga tidak menyurutkan semangat penerbit buku fisik untuk tetap produktif. Esti Budihabsari, Manajer Redaksi Buku Genre Umum dan Remaja Mizan Publishing menyatakan saat ini industri penerbitan buku harus lebih kreatif.

“Jadi, sejak awal kami harus memposisikan diri sebagai perusahaan konten. Kami juga harus melakukan berbagai eksperimen agar konten kami tetap relevan, sesuai dengan perkembangan zaman,” kata Esti kepada MPI.

“Selama penerbit berusaha membuat konten yang sesuai, maka tak perlu khawatir dengan merebaknya era digital,” tambahnya lagi.

(Ajeng Wirachmi & Wiendy Hapsari-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini