Menakar Minat Baca Gen Z di Tengah Gempuran Digital (1)

MNC Portal, · Jum'at 02 Juli 2021 10:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 65 2434285 menakar-minat-baca-gen-z-di-tengah-gempuran-digital-20wNzpqCgo.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern, tak terkecuali generasi Z atau dikenal dengan istilah Gen Z. Dilansir dari situs pewresearch.org, Gen Z sendiri dimaknakan sebagai generasi yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1996 sampai 2010.

Dikaitkan dengan tingkat konsumsi internet, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis pada Mei 2019 menyatakan, Gen Z adalah pengguna terbesar internet dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya. Dalam data tersebut terkuak bahwa pengguna internet paling banyak berada pada rentang usia usia 15 hingga 19 tahun. Sementara, pengguna terbanyak kedua berada pada rentang usia 20 hingga 24 tahun.

Fenomena konsumsi internet ini nyatanya ini juga pas jika dihubungkan dengan karakteristik Gen Z. Dalam situs pewresearch.org, Gen Z didefinisikan sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi, internet dan media sosial. Karakteristik tersebut menjadikan mereka sebagai pecandu teknologi.

Gen Z juga memiliki pola tertentu dalam penggunaan internet. Dalam laporan Digital Around The World 2019 terungkap, mayoritas remaja paling banyak menggunakan internet untuk bersosial media. Selain sosial media, Gen Z juga memanfaatkan internet untuk mencari informasi.

Dalam riset yang sama terungkap pula bahwa Youtube menjadi sosial media dengan penggemar paling banyak. Dengan karakteristik dan pola penggunaan internet yang demikian, lantas bagaimana dengan minat baca buku di kalangan Gen Z? Apakah kegemaran bersosial media turut menjadi penyebab rendahnya tingkat literasi di Indonesia sebagaimana yang digambarkan dalam Survei PISA yang dirilis pada 2019 yang menyatakan Indonesia menjadi 10 negara terbawah dengan tingkat literasi rendah?

Baca juga: Tips Psikolog agar Gen Z Tak Over Pede

Devie Rahmawati, Pegiat Literasi Digital dan Pengamat Sosial UI menyatakan bahwa sepengamatannya, minat baca remaja memang masih rendah. Devie melihat bahwa kecerendungan membaca yang dilakukan Gen Z saat ini, sebagian kecil hanya bersifat rekreasi dan biasanya karena tuntutan tugas sekolah.

“Mereka memilih membaca bukan secara sukarela. Ketertarikan mereka lebih terhadap tampilan visual yang bergerak. Lebih mudah karena membuat mereka tidak perlu terlalu fokus. Mereka bisa sambil melakukan apapun. Itu yang menyebabkan tayangan visual jadi lebih menarik,” tutur Devie, beberapa waktu lalu.

Foto: Okezone.com

Devie juga menambahkan bahwa generasi milenial dan khususnya zelenial atau Z, adalah generasi yang memang sudah lahir di ruang digital. Ketika bertemu dengan fakta sejarah di mana masyarakat Indonesia belum pernah masuk ke tradisi tulisan, hal tersebut memperkuat peluang Gen Z untuk semakin menjauh pada tradisi tulisan, dalam hal ini kaitannya dengan budaya membaca. Walaupun sebenarnya menu untuk membaca juga sudah tersedia di ruang digital.

Baca juga: Mengenal Gen Z, Tingkat Pengangguran Tertinggi akibat Corona

”Masyarakat kita belum pernah masuk ke periode akademik, melainkan langsung lompat dari tradisi lisan ke tradisi digital. Tidak seperti di negara-negara Eropa. Sehingga kemudian proses mencerna pengetahuan, berdasarkan pengetahuan oral masih kuat walaupun sekarang sudah memasuki era digital,” jelasnya.

Hal ini juga diamini oleh salah satu anggota Gen Z, Ratih. Mahasiswi salah satu universitas negeri di Jakarta ini mengaku pola konsumsi internetnya lebih banyak diisi dengan kegiatan membaca berita dan mengakses media sosial khususnya Instagram dan Youtube. Ia mengaku bahwa aktivitas membaca buku serta jurnal-jurnal akademik dilakukannya hanya untuk memenuhi tugas-tugas kuliah.

“Lebih menarik baca berita- atau informasi singkat dan formatnya video karena bisa terlihat gambar dan ada suaranya. Jadi tidak monoton. Tapi kalau ada topik buku yang menarik, boleh juga,” ujarnya.

Alif, pelajar SMA memiliki pendapat yang serupa. Meski mengaku bahwa lebih tertarik dengan sosial media, namun tidak menutup kemungkinan untuk melirik sumber informasi lain , termasuk membaca buku. Hal ini dilatarbelakangi dari keinginan dirinya untuk tetap melek terhadap kondisi sekitar.

“Biar nyambung kalau ketemu orang,” ujarnya.

Komentar Alif sejalan dengan pendapat Devie terkait dampak dari rendahnya minat baca. Menurut perempuan yang aktif sebagai dosen di Universitas Indonesia ini, ada sebuah penelitian dari Yale School of Public Health yang menyatakan manfaat dari membaca. Dalam penelitian tersebut ditemukan hasil bahwa orang yang suka membaca minimal 30 menit per hari memiliki usia 2 tahun lebih panjang dibanding mereka yang tidak pernah membaca.

Mereka yang suka membaca juga akan memiliki empati yang kuat dan kecerdasan emosi yang tinggi. Karena dengan membaca mereka terbiasa untuk melihat perspektif berbeda. “Ya bayangkan saja, jika tingkat literasi kita rendah. Manfaat baik dari membaca itu tidak akan didapat,” ujarnya.

(Ajeng Wirachmi & Wiendy Hapsari-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini