BANDUNG - Indonesia dapat memainkan peranan yang strategis di industri kendaraan listrik. Apalagi industri kendaraan listrik diprediksi akan tumbuh cepat pada tahun-tahun yang akan datang.
Potensi yang dimiliki Indonesia adalah bahan baku primer untuk baterai kendaraan listrik, khususnya nikel, kobalt, alumunium, tembaga dan mangan, serta pasar domestik mobil dan kendaraan bermotor yang cukup besar.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr.mont. M. Zaki Mubarok, S.T., M.T., saat pidato ilmiah dalam Sidang Terbuka Peresmian Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Program Doktor, Magister, dan Program Profesi Semester II Tahun 2019/2020. Prof. Zaki mengangkat pidato ilmiah dengan topik “Penyediaan Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik di dalam Negeri Melalui Proses Pengolahan dan Pemurnian Bijih Nikel Laterit”.
Baca Juga: Soal Mobil Listrik, Menko Luhut: Semua Harus Untung
Menurut data Mineral Commodity Summaries 2019 dari United State of Geological Survei (USGS) tahun 2019, Indonesia mempunyai cadangan nikel terbesar di dunia yaitu sebesar 21 juta ton nikel ekivalen pada 2008 dan tingkat produksi tambang pada tahun tersebut sebesar 560.000 ton nikel ekivalen.
“Cadangan nikel di Indonesia adalah dalam bentuk deposit nikel laterit yang merupakan produk laterisasi atau pelapukan batuan ultramafik (batuan yang mengandung magnesium dan besi),” ujarnya seperti dikutip dari ITB, Jumat (10/1/2020).
Baca Juga: Mimpi Jokowi, RI Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar Dunia
Prof. Zaki menambahkan, baterai merupakan komponen kunci untuk kendaraan listrik dan berkontribusi sekitar 35-40% dari harga mobil listrik pada saat ini. Komponen biaya terbesar untuk pembuatan baterai mobil listrik adalah biaya materialnya yang mencapai kurang lebih 60% dari total biaya pembuatan baterai.
“Mobil listrik menggunakan baterai lithium ion dengan lithium nikel, kobalt, mangan dan alumunium digunakan sebagai bahan baku material katoda serta grafit sebagai material anodanya. Material katoda memberikan kontribusi paling tinggi terhadap harga sel baterai lithium yaitu sekitar +-34%,” jelasnya.
