Mengolah Limbah Jadi Bahan Baku Beton, Ini Cara Kerjanya

Jamilah, Okezone · Rabu 21 November 2018 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 21 65 1980654 mengolah-limbah-jadi-bahan-baku-beton-ini-cara-kerjanya-0NKPrzZf0v.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Tim Abhinaya S60 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mampu merebut juara pertama dalam kompetisi nasional bertajuk Warmadewa High Strength Concrete Competition dengan inovasinya merancang beton yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan di Universitas Warmadewa Bali pada Sabtu 28 Oktober 2018.

Dalam uji coba pembuatan beton ini, abu terbang atau pulverised fly ash (PFA) dipilih sebagai alternatif pengganti semen.

Menurut salah satu anggota tim, Cita Nanda Kusuma Negari, fly ash merupakan jenis logam berat yang jika tidak diolah dengan benar dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Di samping itu, penggunaan fly ash mampu mengurangi biaya pembuatan beton, sekaligus menekan pemanasan global.

“Hal ini dikarenakan jika menggunakan semen portland biasa, proses produksinya banyak melepaskan gas karbon dioksida yang berdampak pada pemanasan global,” ujarnya yang dilansir dari ITS, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

 Baca Juga: 3 Mahasiswa ITS 'Aduk' Limbah Marmer dengan Beton, Justru Berkualitas

 

Lebih lanjut, substitusi semen dengan abu terbang ini juga melibatkan penggunaan limbah sekam padi dan limbah cangkang kerang.

Kedua limbah tersebut digunakan sebagai campuran pembuatan beton karena mengandung senyawa kimia yang dapat meningkatkan kekuatan beton.

“Poin utama yang kami tawarkan adalah mendaur ulang limbah menjadi bahan yang memiliki nilai tambah,” jelas mahasiswi Teknik Sipil tersebut.

 Baca Juga: Olah Limbah Tetes Tebu, Mahasiswa ITS Ciptakan Energi Terbarukan

Wanita yang akrab disapa Cita ini menjelaskan, baik abu terbang, abu sekam, maupun cangkang kerang ketiganya banyak mengandung bahan silika dan alumina. Kandungan silika yang tinggi berperan dalam reaksi hidrasi sekunder beton yang dapat meningkatkan kekuatan beton jangka panjang.

“Mereka bisa bereaksi lama, dan dapat meningkatkan kuat tekan dan kuat tarik beton,” ujar mahasiswi tahun kedua ini.

Cita mengakui bahwa hasil yang didapat oleh timnya ini membutuhkan usaha keras. Dalam proses pembuatan beton tersebut, tim melakukan berbagai trial dan error untuk memastikan bahwa beton benar-benar kuat sebelum dibawa ke perlombaan, salah satunya dengan uji slump.

“Uji tersebut dilakukan untuk menentukan kekakuan campuran beton dalam menentukan tingkat workability-nya,” tambahnya.

 Baca Juga : Mahasiswa ITS Cegah Banjir dengan Ilmu Arsitektur dan Psikologi

Dengan adanya inovasi ini, tim yang terdiri dari Cita Nanda Kusuma Negara, Patricia Mayang Putri, dan Kuntoro Tanoto berharap hasil pemikirannya dapat bermanfaat bagi perkembangan industri konstruksi.

Keunggulan beton yang dirancang oleh tim yang dibimbing oleh Prof Tavio ST MT PhD ini memiliki kekuatan yang baik, ramah lingkungan, dan berkualitas tinggi.

“Semoga produk kami akan mampu menjawab tantangan pengelolaan limbah dan sekaligus mengurangi konsumsi semen,” tandasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini