“Saya melihat bahwa masa depan sektor ini sangat tinggi,” ungkap Satria tentang culturepreneurship. Apalagi, lanjutnya, dengan munculnya fenomena glokalisasi, publik kini berlomba untuk mengemas budaya mereka dan ‘menjual’-nya kepada komunitas global untuk dinikmati bersama. Seperti yang ia katakan, “kebanggaan atas identitas lokal makin muncul dan berkembang.”
Pembicara terakhir, Dynand Fariz menceritakan pengalamannya menjadikan JFC sebagai ajang karnaval dunia. Dimulai dari kreasi keluarganya, Dynand mampu menginisiasi ajang busana internasional yang diikuti oleh 3000 peserta dan dihadiri oleh lebih dari 350 ribu orang tiap tahunnya, serta menempatkan Jember sebagai kota karnaval dunia.
Dia ingin menginspirasi para hadirin seminar untuk berkreasi sembari memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat internasional. “Pada prinsipnya semua teman-teman ini punya kesempatan untuk berkarya, berkarya untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.
Kegiatan dihadiri oleh Dekan Fakultas Filsafat C. Harimanto Suryanugraha OSC beserta jajarannya. Peserta seminar yang memadati ruangan Aula berasal dari kalangan mahasiswa, baik dari Fakultas Filsafat konsentrasi filsafat budaya maupun dari program studi lain, serta masyarakat umum. Adapun acara seminar juga diisi dengan penampilan kebudayaan dan sesi diskusi atau tanya jawab.
(Fahmi Firdaus )