Sebab dengan model pembelajaran tatap muka (face to face) hanya mampu meningkatkan rata-rata APK 0,5% per tahun. Namun, dengan metode daring ini diharapkan meningkat lebih dari 1% per tahun.
"Dengan terobosan PJJ ini, diharapkan APK pendidikan tinggi mampu melesat mencapai 40% di tahun 2022-2023, asalkan PJJ dapat diakses oleh lebih banyak orang dan secara efektif diterapkan," katanya dalam konferensi pers di Universitas Padjadjaran (Unpad), Dipati Ukur, Bandung, Rabu (2/5/2018).

Model daring ditargetkan mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi, terlebih di daerah yang terbatas dengan infrastruktur fisik.
"Misal mahasiswa Papua, dia tidak usah datang ke perguruan tinggi yang dituju. Kalau dia kuliah di universitas yang di Bandung, tapi belajarnya dia tetap di Papua. Dia bisa melakukan perkuliahan di sana, dia akan dapat nilai juga," jelasnya.