Mahasiswa ITS Cegah Banjir dengan Ilmu Arsitektur dan Psikologi

Pernita Hestin Untari, Okezone · Jum'at 20 April 2018 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 19 65 1888638 mahasiswa-its-cegah-banjir-dengan-ilmu-arsitektur-dan-psikologi-jF9NZtq3FO.jpg Foto: Dok ITS

JAKARTA - Indonesia terletak di posisi geografis strategis, tentunya ini membawa dampak negatif bagi Indonesia seperti frekuensi terjadinya bencana alam yang sering terjadi.

Hal ini melatarbelakangi ide tiga mahasiswa Departemen Arsitektur ITS untuk menciptakan desain urban disaster learning center atau pusat edukasi seputar bencana alam. Mereka adalah Muhammad Irfan Al Mujaddidi, Widya Wahyuning Permata, dan Falahy Mohammad.

Dalam memproses desain, mereka memilih Taman Kalijodo Jakarta sebagai lokasi, karena wilayah ini merupakan daerah yang rawan banjir dan terletak di antara empat titik rawan banjir yang ada di Jakarta.

Widya mengatakan, alasan lain memilih Kalijodo karena merupakan area public yaitu Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Rumah Anak (RPTRA)

“Karena areanya strategis dan vital, maka cocok didirikan bangunan dengan fungsi edukasi,” ungkap Widya Dilansir dari laman ITS, Jumat (20/4/2018).

Ia mengatakan, dalam merancang desain ia dan kawan-kawannya memadukan ilmu arsitektur dan psikologi.

“Kita menggunakan konsep katarsis, konsep ini sendiri merupakan bagian ilmu psikologi berupa proses meredakan atau melepaskan emosi manusia melalui media tertentu,” jelasnya.

Jadid anggota tim lainnya menambahkan, mereka menggunakan arsitektur sebagai media masyarakat sekitar untuk melepaskan emosi tentang banjir. Media pelepas emosi tersebut, sambungnya, berupa instalasi, foto, video, serta fasilitas lain di dalam bangunan yang mereka desain.

“Pelepasan emosi ini berhubungan dengan tingkat kesadaran ataupun naluri masyarakat mengenai bencana alam,” katanya.

Selepas mereka melakukan observasi dan analisis, terciptalah desain urban disaster learning center yang memiliki enam lantai. Di lantai pertama hingga ketiga, memfokuskan pada penyatuan emosi pengunjung tentang sebab dan akibat banjir di Jakarta. Pada lantai selanjutnya yakni lantai empat dan lima difokuskan pada edukasi seputar banjir. Sedangkan lantai enam terdapat rooftop dan taman yang menjadi media pelepasan emosi pengunjung.

“Medianya berupa instalasi, foto dan karya lain yang dirancang sendiri oleh pengunjung,” terang Jadid.

Jadid mengungkapkan rancangan bentuk fisik bangunan yang mereka buat terinspirasi dari kehancuran yang terjadi akibat bencana. Contohnya adalah bangunan yang miring, roboh, serta pohon yang ditebang.

“Visual dari bangunan kita terlihat seperti bangunan yang rusak, sama seperti konsep yang kita bawa,” ujarnya.

Falahy Mohammad yang juga anggota tim mengungkapkan, kesulitan yang dihadapi dalam merancang desain bangunan ini ialah ketika proses brainstorming.

“Sulit menggabungkan pemikiran tiga orang dalam satu konsep. Apalagi konsep program ruang yang dicanangkan harus bisa dalam lahan 7 x 7 meter,” jelasnya.

Dengan mengangkat isu ini, Falahy dan tim mengharapkan masyarakat bisa lebih teredukasi tentang potensi bencana di Indonesia serta dapat berpartisipasi aktif dalam semua fase penanggulangan bencana.

“Tidak hanya masyarakat, namun semoga pemerintah memiliki upaya serupa,” pungkas Falahy.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini