Hal baru juga terjadi pada karakteristik soal yang disajikan. Nantinya akan ada beberapa kategori khusus dalam tingkat kesulitan dan sensitifitasnya untuk membedakan kemampuan peserta.
Joni menjelaskan, dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory), maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, diantaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola respone jawaban seluruh peserta tes tahun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan mudah menentukan soal yang berkategori mudah, sedang, dan susah.
Terakhir, ia menuturkan bahwa tiap peserta yang menjawab soal benar dengan jumlah jawaban yang sama, belum tentu mendapatkan skor sama. Karena akan dianalisis dari kategori soalnya tadi.
“Penskoran semacam ini sudah lama digunakan secara meluas di negara-negara maju di Amerika dan Eropa. Karena dengan menyertakan karakteristik soal, maka skor yang diperoleh akan lebih fair dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik,” tutup Joni dalam siaran persnya, Senin (9/4/2018).
(Susi Fatimah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik