Sedangkan pendamping lainnya, Haikal sempat merasa kesulitan saat mendeskripsikan soal TKPA yang berbentuk gambar kompleks. Sedangkan para peserta difabel SBMPTN 2016 sendiri mendapatkan soal yang sama dengan peserta reguler lainnya, bahkan dengan durasi waktu pengerjaan yang sama, yakni dua jam.
"Soal mereka sama. Dan untuk peserta difabel soal penalaran gambar juga tidak timbul sehingga mereka sempat mencoba meraba. Tentu saja kami langsung memberi tahu bahwa lembar soal tidak timbul dan mendeskripsikan sedemikian rupa supaya mereka paham," paparnya.
Hal serupa juga terjadi pada peserta tunarungu. Sebab, soal cerita yang panjang membuat mereka cukup kebingungan. Salah satu pendamping, Zakiah menyebut, seharusnya untuk peserta difabel panitia menyediakan soal timbul atau digital yang mudah diakses peserta.
"Iya seharusnya soalnya timbul. Karena problem sebagian besar pada soal gambar yang rumit. Walaupun ada juga peserta tunanetra yang masih bisa melihat jika dengan ukuran besar sehingga pendamping harus menggambarkannya. Ada juga yang menyoroti soal dengan senter karena mereka mampu melihat jika terang. Tetapi terlepas dari itu semua, SBMPTN 2016 berjalan lancar. Kami juga berhasil menyelesaikan membacakan soal secara keseluruhan," jelasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik