Roesdiman berpendapat, masyarakat Indonesia terlalu nyaman dalam hal berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Padahal, untuk mampu bersaing setidaknya harus menguasai tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Mandarin, dan Indonesia.
"Sedangkan untuk pengajar bahasa di sekolah, seperti Mandarin saja masih sulit. Dari fakta itu terbayang sudah belum siapnya masyarakat. Indonesia itu sebenarnya banyak orang pintar, pertanyaannya ke mana mereka?" sebutnya.
Pria yang menamatkan studi S-3 nya di Ohio State University Amerika Serikat (AS) itu mengungkapkan, kebanyakan orang pintar di Indonesia memilih berkarier di luar negeri. Berdasarkan pengalamannya di AS, hampir 50 persen orang Indonesia yang sekolah di AS bekerja di sana. Hal itu disebabkan karena posisi yang lebih menjanjikan ketimbang pulang ke Indonesia.
"Seandainya mereka pulang ke Tanah Air, mereka memilih jadi pengusaha bukan jadi profesional. Alasannya karena orangtuanya pengusaha. Memang data persisnya tidak ada, tetapi itu fakta di lapangan," tuturnya.
Pendidikan tinggi, ucap dia, merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan SDM handal. Untuk itu, dibutuhkan universitas-universitas berkelas yang memiliki standar tinggi. Sayangnya, kampus di Indonesia belum ada yang berhasil masuk dalam ranking dunia.