Tim Ekspedisi Universitas Brawijaya di Mamasa Temukan Warga Kesulitan Akses Jembatan

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Sabtu 03 Oktober 2026 21:46 WIB
TEP Unbraw di Mamasa
Share :

MAMASA — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya bersama masyarakat melakukan perbaikan jembatan kayu di Blok 100, Kawasan Transmigrasi UPT Rano, Desa Mehalaan Barat, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada 6-10 September 2026 itu dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan sekitar 30 warga. Selain memperbaiki jembatan, tim bersama masyarakat juga membuka akses jalan sepanjang sekitar 100 meter menuju lokasi rumah pengering kopi yang sedang dibangun.

Jembatan sepanjang lima meter tersebut selama ini menjadi akses utama bagi sekitar 10 kepala keluarga. Jalur itu juga digunakan anak-anak untuk menuju SD Negeri 009 Rano serta warga yang hendak menuju Mushala Darul Muhlisin.

Jembatan yang dibangun pemerintah pada 2018 itu mengalami kerusakan akibat paparan cuaca, aliran air, dan aktivitas warga. Masyarakat sebelumnya melakukan perbaikan secara swadaya menggunakan material dan peralatan yang tersedia.

Dalam kegiatan tersebut, kayu-kayu jembatan yang telah lapuk diganti dengan material yang lebih tebal. Perbaikan akses dilakukan bersamaan dengan pembukaan jalan menuju rumah pengering kopi agar pembangunan fasilitas tersebut dapat berjalan.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya, Bambang Susilo, mengatakan keterlibatan masyarakat dalam pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dalam pendampingan yang dilakukan tim di kawasan transmigrasi.

“Kerja keras gotong royong memperbaiki infrastruktur jembatan, jalan, dan infrastruktur lainnya demi lancarnya program itu memberikan semangat luar biasa kepada kami, Tim Ekspedisi Patriot,” ujar Bambang.

Bagi masyarakat, perbaikan akses tersebut tidak hanya berkaitan dengan mobilitas sehari-hari. Jalur menuju rumah pengering juga berkaitan dengan aktivitas petani kopi di kawasan Rano.

Ketua Gapoktan Kopi Alam Rano, Solikhin, mengatakan kondisi akses yang lebih baik akan memudahkan warga membawa hasil panen menuju lokasi pengeringan.

“Jalan dan jembatan ini urat nadi kita bersama, terutama buat para petani kopi. Kalau aksesnya bagus dan aman, mobilitas warga jadi lancar dan pengangkutan hasil panen menuju tempat pengeringan juga jauh lebih mudah,” kata Solikhin.

Selama ini, petani masih mengeringkan kopi secara tradisional menggunakan terpal di pinggir jalan. Ketika hujan turun, proses pengeringan dapat terganggu dan kopi kembali basah sehingga berpengaruh terhadap kualitas serta harga jual.

Rumah pengering kopi yang sedang dibangun dirancang menggunakan teknologi efek rumah kaca dan nantinya dioperasikan oleh masyarakat. Gapoktan Kopi Alam Rano yang beranggotakan 40 petani berharap fasilitas tersebut dapat membantu meningkatkan penanganan hasil panen.

Selain mendukung aktivitas pertanian, kegiatan gotong royong juga mempertemukan warga lokal dengan masyarakat transmigran dalam pekerjaan bersama.

“Rasa kekeluargaan kami di transmigrasi dan kepedulian antarwarga, antara lokal dan Jawa, itu hidup kembali. Pekerjaan yang tadinya kelihatan berat dan mustahil kalau dikerjakan sendiri, ternyata kalau dipikul sama-sama bisa cepat selesai,” ujar Solikhin.

Kegiatan TEP di Rano menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam pendampingan masyarakat di kawasan transmigrasi. Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemanfaatan potensi lokal yang dapat dikelola bersama masyarakat.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya mengatakan transformasi transmigrasi tidak lagi sebatas pemindahan penduduk, tetapi juga pembangunan kehidupan dan penguatan hubungan masyarakat.

“Kementerian Transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk. Kita membangun peradaban dan memindahkan kehidupan,” kata Iftitah saat pembekalan TEP 2026 di Bogor, 27 Juli 2026.

Sementara itu, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam mengelola potensi yang dimiliki suatu wilayah.

“Pada akhirnya, semua bergantung pada kualitas SDM kita. Jika unggul dan berintegritas, maka sumber daya yang kita miliki dapat dikelola sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat,” ujar AHY dalam seminar nasional di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, 25 Mei 2026.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya