JAKARTA – Sebanyak 87,5 persen alumni perguruan tinggi di Indonesia mengaku pernah terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat selama lima tahun terakhir. Namun, sebagian besar keterlibatan tersebut masih bersifat sesekali dan belum berkelanjutan.
Temuan tersebut merupakan hasil survei Katadata Insight Center terhadap 1.000 alumni pendidikan tinggi. Dari jumlah tersebut, hanya 28,7 persen responden yang mengaku aktif terlibat dalam kegiatan pengabdian secara berkelanjutan. Sementara itu, sebanyak 38,5 persen lainnya hanya terlibat sesekali.
Hasil survei tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam mengoptimalkan potensi alumni perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan Indonesia, meskipun sebagian besar telah memiliki pengalaman dalam kegiatan pengabdian.
Persoalan tersebut turut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) 2 bertajuk Mengorkestrasi Talenta Global untuk Pembangunan Berdampak melalui Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa dan Kolaborasi Strategis di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Forum yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI), dan Katadata Insight Center itu membahas upaya memperkuat kontribusi alumni bagi pembangunan.
Executive Board Yayasan Bicara Data Indonesia, Yenny Bachtiar, mengatakan alumni merupakan aset penting karena memiliki kompetensi akademik, pengalaman profesional, serta jejaring yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan nasional maupun daerah.
Namun, menurut dia, masih terdapat kesenjangan antara potensi yang dimiliki alumni dan kesempatan untuk berkontribusi. Salah satu kendalanya adalah belum tersedianya pemetaan rekam jejak dan jejaring alumni secara sistematis.
"Talenta unggul penting, tetapi bagaimana investasi besar dalam pendidikan dan pengembangan talenta ini bisa menjadi kapasitas produktif, penguatan institusi, serta kontribusi nyata bagi pembangunan, baik nasional maupun daerah. Hal ini menjadi tantangan yang perlu kita jawab bersama," ujar Yenny.
Selain persoalan keterlibatan alumni, daya saing talenta Indonesia juga menjadi perhatian. Dalam Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 135 negara. Posisi tersebut turun dari peringkat ke-65 pada 2020.
Plt Asisten Deputi Riset Teknologi dan Kemitraan Industri Kemenko PMK, Ahmad Saufi, menilai pengembangan talenta perlu diikuti upaya mengoptimalkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki para alumni.
"Angka-angka ini menjadi cermin bagi kita untuk bekerja lebih keras. Tantangannya bukan lagi sekadar memproduksi talenta, melainkan bagaimana mengelola pengetahuan dan memfasilitasi pergeseran paradigma dari brain drain menuju brain gain dan kemudian brain circulation," kata Ahmad Saufi.
Dalam diskusi tersebut, salah satu persoalan yang mengemuka adalah data alumni yang masih tersebar di berbagai institusi dan belum terintegrasi. Padahal, informasi mengenai latar belakang pendidikan, keahlian, pengalaman, lokasi, dan minat kontribusi alumni dapat membantu mempertemukan mereka dengan kebutuhan pembangunan.
Peserta FGD juga menyoroti pentingnya mengubah pola keterlibatan alumni yang selama ini cenderung bersifat sporadis menjadi kolaborasi jangka panjang. Kontribusi alumni tidak hanya diukur dari kepulangan mereka ke Indonesia, tetapi juga melalui kolaborasi riset, transfer pengetahuan, pendampingan, kewirausahaan, hingga penciptaan lapangan kerja.
Resident Director FES Indonesia, Brigitte Juchems, turut menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga pengelola beasiswa. Menurut dia, penyelarasan program beasiswa dengan kebutuhan pembangunan dan prioritas riset nasional, seperti transisi energi, digitalisasi, dan manajemen bencana, perlu diperkuat.
"Yang saya lihat di sini adalah pentingnya kolaborasi organik antar lembaga pengelola beasiswa, bukan hanya LPDP, sehingga tersedia satu platform bersama yang memuat seluruh institusi beasiswa dan bisa dihubungi siapa pun yang ingin berkolaborasi dengan alumninya," ujar Brigitte.
Sebagai tindak lanjut, forum tersebut mendorong konsolidasi data alumni dari berbagai institusi untuk membangun purwarupa talent pool. Selain itu, mekanisme pencocokan antara talenta dan peluang kontribusi (talent and opportunity matching) diusulkan untuk diuji melalui program yang telah berjalan, seperti mentoring dan bursa kerja alumni.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan alumni untuk berkontribusi secara berkelanjutan, sekaligus mengoptimalkan investasi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
(Khafid Mardiyansyah)