Namun, menurut dia, masih terdapat kesenjangan antara potensi yang dimiliki alumni dan kesempatan untuk berkontribusi. Salah satu kendalanya adalah belum tersedianya pemetaan rekam jejak dan jejaring alumni secara sistematis.
"Talenta unggul penting, tetapi bagaimana investasi besar dalam pendidikan dan pengembangan talenta ini bisa menjadi kapasitas produktif, penguatan institusi, serta kontribusi nyata bagi pembangunan, baik nasional maupun daerah. Hal ini menjadi tantangan yang perlu kita jawab bersama," ujar Yenny.
Selain persoalan keterlibatan alumni, daya saing talenta Indonesia juga menjadi perhatian. Dalam Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2025, Indonesia berada di peringkat ke-80 dari 135 negara. Posisi tersebut turun dari peringkat ke-65 pada 2020.
Plt Asisten Deputi Riset Teknologi dan Kemitraan Industri Kemenko PMK, Ahmad Saufi, menilai pengembangan talenta perlu diikuti upaya mengoptimalkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki para alumni.
"Angka-angka ini menjadi cermin bagi kita untuk bekerja lebih keras. Tantangannya bukan lagi sekadar memproduksi talenta, melainkan bagaimana mengelola pengetahuan dan memfasilitasi pergeseran paradigma dari brain drain menuju brain gain dan kemudian brain circulation," kata Ahmad Saufi.
Dalam diskusi tersebut, salah satu persoalan yang mengemuka adalah data alumni yang masih tersebar di berbagai institusi dan belum terintegrasi. Padahal, informasi mengenai latar belakang pendidikan, keahlian, pengalaman, lokasi, dan minat kontribusi alumni dapat membantu mempertemukan mereka dengan kebutuhan pembangunan.