Pertanyaan berikutnya adalah mengapa air yang sudah digunakan tidak dikembalikan saja ke sistem untuk digunakan berulang kali. Sebagian air memang dapat didaur ulang. Akan tetapi, ketika air mengalami penguapan berulang, mineral, garam, dan berbagai zat terlarut dapat menjadi semakin terkonsentrasi.
Jika konsentrasinya terlalu tinggi, zat-zat tersebut dapat membentuk endapan atau kerak pada peralatan. Dalam kondisi tertentu, hal itu dapat menyebabkan penyumbatan maupun korosi dan mengganggu sistem pendinginan.
Untuk menjaga kualitas air, operator biasanya perlu mengeluarkan sebagian air dari sistem dan menggantinya dengan air baru. Air yang dikeluarkan ini dikenal sebagai bagian dari proses blowdown, sedangkan air baru digunakan untuk mempertahankan kondisi sistem pendinginan.
Jadi, air dalam data center bukan berarti selalu digunakan sekali lalu langsung dibuang. Sebagian dapat digunakan berulang kali, tetapi terdapat batas berapa kali air tersebut dapat diputar kembali.
Sekilas, air laut tampak seperti alternatif menarik karena jumlahnya sangat melimpah. Namun, air laut memiliki kandungan garam dan mineral yang tinggi. Ketika air menguap dalam proses pendinginan, garam dan mineral tersebut tidak ikut menguap.
Akibatnya, residu dapat tertinggal dan berpotensi menyebabkan korosi serta penumpukan endapan pada peralatan. Bukan berarti air laut sama sekali tidak dapat dimanfaatkan untuk pendinginan.
Teknologi tertentu memang memungkinkan penggunaan air laut, tetapi membutuhkan sistem dan pengolahan yang dirancang khusus. Dengan kata lain, mengganti air tawar dengan air laut bukan sekadar mengganti sumber air.
Data center juga menggunakan kipas dan sistem pendingin mekanis. Namun, metode tersebut memiliki kebutuhan energi yang cukup besar.
Ketika kapasitas komputasi meningkat, jumlah panas yang harus dibuang juga bertambah. Dalam kondisi tertentu, pendinginan evaporatif dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dari sisi energi. Di sinilah muncul pertukaran antara penggunaan air dan penggunaan energi.
Sistem yang lebih hemat energi tidak selalu menjadi sistem yang paling hemat air. Sebaliknya, mengurangi penggunaan air dengan mengandalkan pendinginan mekanis dapat meningkatkan kebutuhan listrik. Karena itu, desain data center harus mempertimbangkan kondisi iklim, ketersediaan air, harga energi, kebutuhan komputasi, hingga dampak lingkungan.
(Djanti Virantika)