JAKARTA – Siapakah penemu batik Indonesia? Ini dia sosoknya. Peringatan Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober merupakan acara yang dirayakan setiap tahun di Indonesia untuk memperingati dan mempromosikan warisan budaya batik.
Acara ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni dan budaya batik Indonesia serta untuk memperingati pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda Manusia pada tahun 2009. Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (3/10/2023) K.R.T. Hardjonagoro atau yang akrab disapa Go Tik Swan adalah seorang tokoh yang terkenal dalam pengembangan batik di Indonesia, sekaligus penemu batik pertama di Indonesia.
Pria asal Surakarta ini merupakan sosok budayawan Tionghoa yang dikenal sebagai pelopor dalam mempromosikan batik Jawa Tengah, khususnya batik dari kota Solo. Hardjonagoro adalah seorang bangsawan Jawa yang memiliki peran penting dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik tradisional.
Ia merupakan alumni mahasiswa Universitas Indonesia dengan Jurusan Sastra Jawa pada tahun 1955. Kegemarannya terhadap batik ternyata keturunan dari ayahnya Go, Dhian lk yang merupakan salah satu sosok yang menekuni bisnis di industri batik.
Hardjinagoro mulai dikenal karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Ia lalu diminta untuk membuat “batik Indonesia” hingga sejak saat itu ia dijadikan sebagai pelopor batik oleh para perancang batik Indonesia.
Salah satu kontribusi utamanya adalah dalam menggagas konsep "Batik Sogan," yang mengacu pada batik dengan warna dasar kuning kecoklatan atau kuning pucat yang menjadi ciri khas batik dari daerah Solo. Ia juga berperan dalam mendirikan Sekolah Batik Pajang pada tahun 1950 sebagai upaya untuk mengajarkan teknik batik kepada generasi muda.
K.R.T. Hardjonagoro adalah salah satu tokoh yang berusaha mempromosikan batik sebagai warisan budaya Indonesia yang berharga. Namun, perlu diingat bahwa batik sebagai seni dan warisan budaya telah ada di Indonesia sejak zaman kuno, dan banyak orang yang telah berkontribusi dalam perkembangannya selama berabad-abad.
(Feby Novalius)