Cerita Pekerja yang Takut Digantikan Artificial Intelligence

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis
Selasa 06 Juni 2023 06:00 WIB
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Share :

Jika mereka memperlakukan AI sebagai sumber daya dan bukan ancaman, menurut para ahli, mereka akan menjadikan diri mereka lebih berharga bagi calon pemberi kerja – dan merasa tidak terlalu cemas.

Bagi sebagian orang, alat AI generatif terasa seolah-olah hadir secara tiba-tiba.

OpenAI ChatGPT tampaknya tenar dalam semalam, dan "perlombaan senjata AI" semakin meningkat setiap hari, menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan bagi para pekerja.

Carolyn Montrose, seorang pelatih karier dan dosen di Columbia University di New York, mengakui kecepatan inovasi dan perubahan teknologi bisa menakutkan.

“Adalah normal untuk merasakan kecemasan tentang dampak AI karena evolusinya berubah-ubah, dan ada banyak faktor aplikasi yang tidak diketahui,” katanya.

Tapi meskipun teknologi baru ini cukup menggelisahkan, dirinya juga mengatakan para pekerja tidak harus merasa ketakutan.

Sebab, setiap orang punya kuasa untuk memutuskan sendiri seberapa banyak mereka akan khawatir. Para pekerja bisa memilih untuk merasa cemas tentang AI, atau merasa berdaya untuk mempelajarinya dan menggunakannya untuk keuntungan mereka.

Scott Likens dari PwC, yang berspesialisasi dalam memahami masalah seputar kepercayaan dan teknologi, memberi komentar senada

“Kemajuan teknologi telah menunjukkan kepada kita bahwa, ya, teknologi berpotensi untuk mengotomatisasi atau merampingkan proses kerja. Namun, dengan seperangkat keterampilan yang tepat, individu sering kali dapat berkembang seiring dengan kemajuan ini,” katanya.

“Supaya tidak terlalu cemas dengan adopsi AI yang cepat, karyawan harus bersandar pada teknologi ini.”

“Pendidikan dan pelatihan [adalah] kunci bagi karyawan untuk belajar tentang AI dan apa yang dapat dilakukan AI untuk peran mereka serta membantu mereka mengembangkan keterampilan baru. Alih-alih menghindar dari AI, karyawan harus merencanakan untuk merangkul dan mengedukasi.

Mungkin juga perlu diingat bahwa, menurut Likens, “ini bukan pertama kalinya kita mengalami disrupsi industri – mulai dari otomatisasi dan manufaktur sampai e-commerce dan ritel – kita menemukan cara untuk beradaptasi” .

Memang, pengenalan teknologi baru seringkali menakutkan bagi sebagian orang, tetapi Montrose menjelaskan bahwa di masa lalu, banyak kebaikan yang datang dari perkembangan baru: dia mengatakan perubahan teknologi selalu menjadi unsur utama kemajuan masyarakat

Terlepas dari bagaimana orang merespons teknologi AI, imbuh Montrose, ia akan selalu ada. Dan akan jauh lebih membantu bila kita tetap berpikir positif dan menatap ke depan.

“Kalau orang merasa cemas alih-alih meningkatkan keterampilan mereka, itu akan lebih merugikan mereka daripada AI itu sendiri,” katanya.

Meskipun para pakar mengatakan kecemasan itu wajar, sampai tingkat tertentu, mungkin belum waktunya untuk menekan tombol panik.

Beberapa penelitian baru-baru ini menunjukkan ketakutan robot mengambil alih pekerjaan manusia mungkin berlebihan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya