SURABAYA - Perjalanan pulang dari tanah perantauan alias mudik menjadi hal yang ditunggu-tunggu banyak orang. Pulang ke tanah kelahiran dan bertemu sanak saudara demi melepas rindu.
Namun, Dosen Departemen Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR), Moordiati SS MHum, mengungkap ada pergeseran makna dalam perjalanan mudik Lebaran.
Moordiati menilai istilah mudik dalam perkembangannya juga mengalami perubahan. Seiring dengan tradisi lebaran, mudik diasosiasikan dengan istilah Jawa mulih dhisik yang artinya ‘pulang dulu’.
“Seiring dengan adanya tradisi lebaran, orang-orang mengatakan istilah mudik itu mulih dhisik, serapan dari bahasa Jawa. Ini masuk akal mengingat banyak orang Jawa yang merantau dan melakukan mudik saat lebaran,” tuturnya.
BACA JUGA:
Selain itu, perubahan esensi mudik juga terpengaruh oleh dinamika sosial dan perubahan zaman. Menurut Moordiati, fenomena mudik dulu dan kini telah mengalami perubahan esensi.
Dosen yang aktif mengkaji sejarah kota, gender, dan kesehatan itu menekankan bahwa pada tahun 60-an hingga 80-an, ‘roh’ dari fenomena mudik sangat jelas terlihat.
Mudik selalu menjadi momen bagi para perantau untuk melepaskan rindu akan keluarga dan kampung halaman, mengingat adanya ikatan emosional yang sangat erat.
“Kalau dulu mudik itu kan, rohnya sangat kelihatan, utamanya saat proses urbanisasi sangat tinggi, sekitar tahun 60-an hingga 80-an. Orang mudik itu ya, memang karena dia ingin pulang ke kampung halamannya sebab ada ikatan emosional yang tinggi. Jadi, dulu orang melakukan mudik dengan cara apa pun. Meski istilahnya dengan kendaraan yang seadanya dan minimalis,” jelasnya.
BACA JUGA:
Akan tetapi, lanjutnya, ketika berbicara konteks kekinian, tradisi mudik telah banyak berubah.
Moordiati memandang bahwa perubahan itu penyebabnya karena perubahan gaya hidup, peningkatan kehidupan sosial, hingga persaingan status sosial. Sehingga, mudik yang semula sebagai ajang melepas rindu dan bersilaturahmi seolah menjadi kehilangan esensinya.
“Orang sekarang kan mudik tidak lagi seperti zaman dulu ya, jadi mereka ketika pulang itu bukan karena ada ikatan emosional lagi, tetapi karena mereka ingin menunjukkan social life mereka di tempat rantau,” pungkasnya
( Muhammad Fadli Rizal)