Gali Potensi Mangrove Sungai Apit sebagai Pangan Alternatif

Haliza Nurdilla , Jurnalis
Kamis 01 Desember 2022 12:43 WIB
Gali potensi mangrove Sungai Apit/Istimewa
Share :

JAKARTA - Mangrove merupakan ekosistem tepi pantai yang memiliki banyak manfaat baik dari sisi ekologi maupun ekonomi.

Daerah di Provinsi Riau yang terkenal dengan keanekaragaman mangrove yang tinggi adalah Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.

Luas kawasan mangrove mencapai 25 hektar dan tercatat setidaknya terdapat 35 spesies mangrove yang hidup di sepanjang pesisir Sungai Apit.

Hal ini membuat kawasan tersebut menjadi salah satu destinasi ekowisata.

Berdasarkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Dr. Elfis, M.Si., Dr. Prima Wahyu Titisari, M.Si., Dr. Syarifah Faraddina M.Ph., M. Akbar Maulana, Putri Selaras dan Haliza Nurdilla berupa sosialisasi kepada kelompok usaha Berembang Asri.

Bahwa selain menjadi kawasan ekowisata, terdapat beberapa spesies mangrove yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang bernilai ekonomis.

Kegiatan tersebut dilakukan pada Jumat, 5 Agustus 2022.

Beberapa spesies mangrove yang dapat diolah menjadi produk pangan tersebut adalah Api-api (Avicennia marina) yang buahnya dapat diolah menjadi tepung agar-agar, puding, kue bolu, bingka, keripik, kerupuk, kolak, dawet/cendol, onde-onde, gemblong, ketimus, combro dan kue talam.

Jenis berembang/pedada (Sonneratia alba) buahnya dapat diolah menjadi dodol, wajik, lempuk, sirup, jus, cocktail dan permen.

Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) bisa dimanfaatkan buahnya untuk dijadikan dodol dan tepung untuk membuat kue bolu dan kue kering. Jeruju (Acanthus ilicifolius) dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan kerupuk, keripik, teh dan kopi.

“Empat jenis mangrove tersebut adalah jenis yang paling banyak ditemui di kawasan mangrove Sungai Apit, pemanfaatannya juga kurang maksimal. Namun jika dimanfaatkan untuk produk pangan, maka buah-buah mangrove yang biasanya dibiarkan begitu saja dapat termanfaatkan dengan baik dan produknya juga dapat dijual”, ujar Pak Elfis.

Selain empat jenis tersebut, Bu Prima menambahkan bahwa ada jenis lainnya yang bisa diolah menjadi produk pangan yaitu Nipah (Nypa fruticans) bisa diolah menjadi gula, kolak dan minuman wedang instan nipah.

Waru laut (Hibiscus tiliaceus) dimanfaatkan untuk pembuatan temped an terakhir Piyai (Acrostichum aerum) dapat dijadikan urap.

Mulanya masyarakat hanya memanfaatkan mangrove sebagai fungsi ekologi saja. Adanya sosialisasi yang dilakukan membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan mangrove dari sisi ekonomi.

Tidak hanya mengenalkan diversifikasi makanan mangrove, bapak/ibu dosen turut memotivasi masyarakat untuk semangat dalam berwirausaha dan melihat potensi lebih yang dimiliki mangrove Sungai Apit.

Masyarakat sangat antusias selama mengikuti kegiatan sosialisasi dan setuju untuk mengikuti kegiatan pengabdian selanjutnya, yaitu praktik membuat beberapa jenis produk pangan yang sudah dibahas saat sosialisasi.

Kegiatan tersebut secepatnya akan dilakukan sembari menunggu masyarakat untuk mengumpulkan buah/daun mangrove yang diperlukan.

Diharapkan kegiatan ini nantinya dapat memotivasi masyarakat dalam mengembangkan potensi mangrove Sungai Apit dalam produk pangan dan hasil olahan tersebut dapat dijual sehingga menambah pemasukan bagi masyarakat dari sektor ekonomi.

Haliza Nurdilla

Aktivis Persma Aklamasi UIR

(Natalia Bulan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya