Kegiatan tersebut dilakukan pada Jumat, 5 Agustus 2022.
Beberapa spesies mangrove yang dapat diolah menjadi produk pangan tersebut adalah Api-api (Avicennia marina) yang buahnya dapat diolah menjadi tepung agar-agar, puding, kue bolu, bingka, keripik, kerupuk, kolak, dawet/cendol, onde-onde, gemblong, ketimus, combro dan kue talam.
Jenis berembang/pedada (Sonneratia alba) buahnya dapat diolah menjadi dodol, wajik, lempuk, sirup, jus, cocktail dan permen.
Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) bisa dimanfaatkan buahnya untuk dijadikan dodol dan tepung untuk membuat kue bolu dan kue kering. Jeruju (Acanthus ilicifolius) dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan kerupuk, keripik, teh dan kopi.
“Empat jenis mangrove tersebut adalah jenis yang paling banyak ditemui di kawasan mangrove Sungai Apit, pemanfaatannya juga kurang maksimal. Namun jika dimanfaatkan untuk produk pangan, maka buah-buah mangrove yang biasanya dibiarkan begitu saja dapat termanfaatkan dengan baik dan produknya juga dapat dijual”, ujar Pak Elfis.
Selain empat jenis tersebut, Bu Prima menambahkan bahwa ada jenis lainnya yang bisa diolah menjadi produk pangan yaitu Nipah (Nypa fruticans) bisa diolah menjadi gula, kolak dan minuman wedang instan nipah.
Waru laut (Hibiscus tiliaceus) dimanfaatkan untuk pembuatan temped an terakhir Piyai (Acrostichum aerum) dapat dijadikan urap.
Mulanya masyarakat hanya memanfaatkan mangrove sebagai fungsi ekologi saja. Adanya sosialisasi yang dilakukan membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan mangrove dari sisi ekonomi.
Tidak hanya mengenalkan diversifikasi makanan mangrove, bapak/ibu dosen turut memotivasi masyarakat untuk semangat dalam berwirausaha dan melihat potensi lebih yang dimiliki mangrove Sungai Apit.