JAKARTA - Staf Khusus (Stafsus) Menteri Agama (Menag) bidang Komunikasi Publik dan Media Wibowo Prasetyo meminta para guru PAI untuk merespons cepat dalam menangkal hoaks terlebih di saat menghadapi era disrupsi teknologi informasi.
Sebab, menurutnya guru adalah garda terdepan dalam upaya penguatan moderasi beragama di Indonesia mulai dari lingkup terkecil kepada para siswa.
Pasalnya, banyak informasi palsu di media sosial. Berbagai kabar hoaks dan disinformasi yang beredar di media sosial kerap berbalut isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) dan ini dapat memicu konflik di masyarakat.
Hoaks, lanjutnya, masih cukup masif terjadi. Misalnya, hoaks dana haji dipakai untuk membiayai IKN (Ibu Kota Nusantara).
"Informasi keliru dan ngawur seperti ini harus bisa direspons, termasuk oleh para guru PAI yang termasuk berada di garda terdepan. Karena itu, upaya penguatan moderasi beragama tidak bisa hanya dilakukan dengan cara-cara konvensional tatap muka, tapi juga memanfaatkan teknologi informasi," ujar Wibowo dikutip dalam laman resmi Kemenag, Minggu (18/9/2022).
Menurut Wibowo, disrupsi teknologi informasi membawa banyak dampak nyata pada kehidupan manusia.
Sebab itu, segenap pihak, termasuk para guru PAI, harus dapat merespons dengan cepat.
"Ini harus direspons cepat oleh guru pendidikan agama Islam. Perubahan mendasar tak lagi bisa ditunda agar guru tidak tertinggal dari derasnya arus perubahan. Pertanyaannya, apakah para guru PAI akan mengambil peran perubahan atau ditinggalkan perubahan," kata dia.
Dengan demikian, dia berharap, guru PAI segera melakukan konsolidasi internal untuk menyiapkan langkah-langkah perbaikan terhadap mutu dan kualitas pengajaran.
Bahkan, guru juga perlu melakukan terobosan-terobosan dalam merespons disrupsi yang semakin masif.
"Tantangan guru PAI dalam mendidik semakin besar. Sebab, selain membekali pengetahuan keagamaan siswa, mereka juga dituntut mampu membentuk siswa yang memiliki karakter, akhlak, adab, dan kesalehan siswa yang baik,"tuturnya.
Serta, para guru lanjutnya harus mampu mengisi ruang digital dengan konten-konten moderasi beragama dan informasi yang valid. Wibowo mengajak guru PAI untuk menjalin sinergi dengan berbagai pihak dalam penguatan moderasi beragama.
Misalnya, seperti halnya di Perguruan Tinggi Keagamaan, sekolah juga turut menjadi lokomotif gerakan moderasi beragama yang menyampaikan pesan agama yang damai dan toleran.
“Ini penting dan sangat relevan untuk menjadi wadah kontra narasi pemahaman keagamaan yang rigid,"ujar Wibowo.
(Natalia Bulan)