Akibatnya sejak tahun 2020 sekolah yang sudah didirikan sejak tahun 2005 itu sudah tiga kali diterjang banjir dengan skala besar.
"Kerusakannya banyak, ada dokumen sekolah, alat permainan edukatif, buku-buku, bangku, lemari, printer dan beberapa alat penunjang pendidikan lainnya, dengan nilai kerugian sekitar Rp50 juta," sebutnya.
Dikatakannya, PT KCIC sempat menjanjikan akan memperbaiki drainase sisa proyek pembangunan tiang pancang. Namun, janji itu menguap hingga proyek pembangunan lintasan rel kereta itu selesai. "Sampai sekarang janji itu tidak ada realisasi," keluhnya.
Salah seorang siswa Bayezid mengaku sedih karena sekolahnya rusak. Apalagi sekarang harus ikut belajar di maskji karena ruangan kelasnya sering kebanjiran kalau hujan. "Pengen belajar lagi di sekolah, kalau gini sedih karena sekolahnya kena banjir. Pokoknya pengen cepat dibenerin sekolahnya," ucapnya polos.
Sementara itu pada aksi yang dilakukan dengan didampingi guru dan orang tua, para siswa-siswi RA Nurul Azmi datang ke kantor desa dengan menaiki dua mobil bak terbuka. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan 'Tolong Selamatkan Sekolah Kami'.
(Natalia Bulan)