Di bidang peternakan, IPB telah mengembangkan sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang merupakan Sinergi IPB, pemerintah kabupaten, dan komunitas peternak kecil untuk dapat mewujudkan bisnis kolektif berjamaah melalui kerjasama dengan investor.
Pembelajaran bersinergi tersebut dari IPB ke komunitas peternak dilakukan dengan proporsi 45% perubahan pola pikir, 35% pemahaman bisnis kolektif berjamaah, dan 20% penguatan ipteks.
"Ini diberikan maksimum 4 tahun," ucapnya
Nantinya lanjut Arif, sekitar 32 SPR terbentuk sejak tahun 2013 dan enam SPR dinyatakan lulus. Tahun ini akan diluluskan lagi 6 SPR. Bahkan di Bojonegoro, SPR sudah mengadopsi teknologi 4.0 dengan teknologi satelit.
Baca Juga: Peringkat IPB Naik 100 Tingkat dalam Daftar Kampus Terbaik Dunia
Rektor IPB, yang juga sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia terpilih 2020-2021, juga berbagi pengalaman dalam pengembangan bisnis hasil inovasi tanaman obat-obatan.
Kemudian ada pengembangan temulawak organic unggulan antara Pusat Studi Biofarmaka IPB, Soho Global Health, dan pemerintah Sukabumi telah menghasilkan produk curcuma yang telah dikomersialkan.
Ketika ditanyakan kunci keberhasilan triple helix, Arif menjawab bahwa kunci paling pokok adalah trust atau kepercayaan. Kalau kepercayaan sudah terbangun akan mudah berkolaborasi.
Baca Juga: Gandeng Pupuk Kaltim dan PTPN, IPB Wujudkan Pertanian 4.0
Paparan Rektor IPB tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konsep IPB Agro-Maritim 4.0 bukan merupakan wacana, tetapi sudah mulai diterapkan di lapangan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dimulai dari program Precision Village dan PreciPalm yang menggandeng dua BUMN yakni PKT dan PTPN, kini agro-maritim 4.0 makin meluas ke berbagai aspek.
(Rani Hardjanti)