PESERTA seminar Culturepreneurship kagum saat tiga orang berbusana konsep Garuda dan Kujang memasuki Aula Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Bak peragawan-peragawati profesional, mereka melenggang dengan anggun, menebar senyum kepada hadirin, sekaligus berpose di depan kamera. Kostum mereka yang megah tidak lain didesain oleh masyarakat dengan tema kebudayaan lokal Indonesia, yang dengan bangga ditampilkan hingga mancanegara.
Ketiganya diboyong langsung oleh Dynand Fariz, pencetus Jember Fashion Carnaval yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2003. Kehadiran tiga peserta JFC ini mewarnai Seminar Nasional bertajuk ‘Culturepreneurship’ pada Sabtu (3/11). Seminar ini, seperti yang diungkap oleh Rektor Unpar Mangadar Situmorang PhD dalam sambutannya, berusaha mencoba mencari di mana esensi entrepreneurship itu.
Seminar dipandu oleh Dr. Elvy Maria Manurung, dosen kewirausahaan di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Filsafat Unpar. Mengantar peserta memaknai kewirausahaan budaya, Guru Besar Fakultas Filsafat Prof. Bambang Sugiharto membuka pemaparan lewat wawasan singkat mengenai kebudayaan, kewirausahaan, serta esensi kewirausahaan budaya.
Bagi Prof. Bambang, kewirausahaan budaya adalah bagian dari pengembangan kebudayaan suatu masyarakat untuk mencapai suatu nilai yang lebih. “Culturepreneurship adalah bagian dari strategi kebudayaan,” tegasnya.
Dari Bitung hingga Jember
Pembicara kedua yaitu Satria Yanuar Akbar berbagi ilmu dan pengalamannya dalam mengelola potensi budaya menjadi industri pariwisata dalam kerangka culturepreneurship. Alumnus Manajemen Unpar ini baru saja terlibat dalam Matasora World Music Festival serta Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL). Berawal dari keinginan pemerintah Bitung untuk meningkatkan pariwisata, FPSL telah diadakan selama tiga tahun, meskipun baru tahun ini dikelola dengan manajemen modern yang ia bawahi.