Mengenai passing grade, ia menjelaskan, perguruan tinggi negeri tidak bisa menentukan passing grade. “Passing grade dihitung berdasarkan nilai serta jumlah keseluruhan pendaftar SBMPTN pada jurusan tersebut,” sambungnya.
Daya tampung setiap jurusan pada kampus berbeda-beda. Daya tampung yang sedikit dan jumlah peminat yang sangat banyak menyebabkan tingkat keketatan sebuah jurusan sangatlah tinggi.
“Pada SBMPTN tahun 2017 lalu, misalnya, Arsitektur menjadi jurusan paling ketat hingga mencapai 2.5% keketatan. Itu artinya dari 100 orang pendaftar dan yang diterima hanya 2,5 orang,” ujarnya.
Untuk jurusan yang memiliki keketatan rendah, di antaranya Fisika. “Pada SBMPTN tahun 2017 lalu, Jurusan Fisika memiliki tingkat keketatan sebesar 10,9%. Ini artinya setiap 100 orang pendaftar yang diterima hanya 10,9 pendaftar,” sambungnya.
Ia menambahkan, pada 2017 nilai SBMPTN tertinggi didapat oleh mahasiswa Teknik Elektro. “Untuk tahun 2017, mahasiswa Teknik Elektro lah yang mendapatkan nilai tertinggi SBMPTN di ITS,” lanjutnya.
(Susi Fatimah)