YOGYAKARTA - Berbagai kasus pemerkosaan berkelompok ditengarai sebagai dampak buruk globalisasi. Pasalnya, globalisasi mendorong cepatnya arus informasi melalui berbagai perangkat digital. Tsunami informasi ini pun, termasuk materi terkait seksualitas, mudah diakses siapa saja tidak terkecuali anak di bawah umur. Karena tidak mendapat pendidikan nilai kebaikan yang baik, mereka pun dengan mudah meniru perilaku buruk tersebut.
Peneliti Merapi Culture Institut, Teguh Prakoso menyampaikan pendidikan berawal dari lingkungan keluarga. Dari situ, anak mendapat pendidikan nilai kebaikan. Pendidikan formal di sekolah juga memiliki andil besar. Karena nilai yang diajarkan pada anak supaya beradab dan manusiawi.
"Sekolah menjadi tempat anak belajar nilai hidup dan mempraktikkannya bersama teman-temannya,'' katanya, belum lama ini.
Penanaman nilai-nilai moral pada generasi muda, kata Teguh, perlu digalakkan agar anak muda bisa menangkis pengaruh nilai-nilai negatif yang cenderung jauh dari jati diri bangsa. Tak
"Kami berharap pada Kemendikbud supaya memasukan pendidikan nilai dan seksualitas di sekolah agar generasi muda yang rentan dan mudah terpengaruh bisa memilah mana yang baik dan tidak baik. Dengan begitu, tindak kekerasan seksual yang dilakukan generasi muda bisa ditekan dan dicegah," paparnya.
Dia memberi contoh kasus kekerasan seks yang berakhir tragis dengan pembunuhan. Hal itu mencerminkan jika pelaku tidak memiliki nilai hidup yang baik.
"Pelaku pemerkosa jelas tidak memiliki nilai hidup yang baik. Jika mereka tahu apa artinya kata baik, maka ia tahu perbuatan apa yang baik dan yang tidak baik," jelasnya.
Ikuti Try Out SBMPTN 2016 Okezone pada Senin, 23 Mei di Gedung SMESCO. Info lengkap klik laman tryout.okezone.com. Segera daftar, banyak hadiah menarik menanti!
(Rifa Nadia Nurfuadah)