JAKARTA - Seseorang yang berprofesi sebagai akademisi dituntut untuk terus berinovasi supaya bisa mencetak manusia-manusia handal di masa depan. Meski tak mudah, hal tersebut justru menjadi motivasi tersendiri bagi Rektor Universitas Tarumanagara (Untar), Profesor Ir Roesdiman Soegiarso, M.Sc, Ph.D. Lama berkiprah di dunia korporasi, kini dia memilih menjadi seorang akademisi.
"Kalau segi keuangan, dibandingkan di korporasi, 100 persen jauh sekali. Kenapa jadi akademisi salah satunya karena kutipan dari Maya Angelou yang berbunyi 'People will forget what you did, people will forget what you said, people will never forget how you make them feel'. Artinya ketika di universitas akan lebih meninggalkan banyak kesan," paparnya saat berbincang dengan Okezone di Kampus Untar, Jakarta, belum lama ini.
Roesdiman menjelaskan, ingin lebih berkontribusi di dunia pendidikan. Terkait pola kerja di dua bidang tersebut, tutur dia, cukup banyak berbeda.
"Kalau di korporasi yang dipentingkan profit, kalau jadi akademisi bagaimana membuat perkembangan, menciptakan manusia yang kredibel. Setelah jadi rektor saya akan tetap mengajar, karena saat jadi rektor ini lebih banyak urusan administrasi. Selain itu saya ingin menulis buku lagi, intinya berkontribusi," terangnya.
Menjadi Rektor Untar selama empat tahun belakangan, lulusan doktor dari Ohio State University AS itu telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kampusnya. Bahkan, pada pertengahan lalu Untar melakukan rebranding, salah satunya terhadap logo. Padahal, Untar sendiri bukan termasuk perguruan tinggi yang baru karena usianya sudah lebih dari setengah abad atau memasuki tahun ke-56.
"Semua orang dalam marketing pasti mengenal branding. Fungsinya itu supaya dikenal, tanpa harus menjual. Jadi itu yang kita inginkan untuk Untar," ujarnya.
Roesdiman mengatakan, branding yang dilakukan kampusnya memang belum sempurna. Saat ini, yang sudah mulai disosialisasikan selain logo adalah warna. Menurut dia, ke depan branding tersebut diharapkan mampu membuat Untar lebih dekat dengan masyarakat sehingga memiliki dampak jangka panjang.
"Warnanya itu ada merah, abu-abu, dan putih. Branding juga menggambarkan semangat baru Untar," terangnya.
Sedangkan untuk visi dan misi Untar di masa mendatang, ucap Roesdiman, sebenarnya tak juah berbeda dari kampus-kampus lain. Yang penting, bisa berkontribusi secara nyata untuk mengembangkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia.
"Setiap universitas punya visi-misi berbeda. Ada ribuan kampus berarti ada ribuan visi-misi. Padahal isinya tak jauh berbeda. Yang terpenting kita selalu ingin meningkatkan standar," tandasnya. (ira)
(Rifa Nadia Nurfuadah)