JAKARTA - Universitas Tarumanagara (Untar) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) tertua di Tanah Air. Kendati demikian, hingga kini eksistensi Untar masih terjaga sebagai salah satu kampus swasta bonafide di Indonesia. Kiprah para mahasiswanya pun semakin terlihat melalui banyaknya prestasi di berbagai bidang.
Rektor Untar Profesor Ir Roesdiman Soegiarso, M.Sc, Ph.D mengatakan, selama empat tahun memimpin, dia melihat bahwa Untar memiliki potensi yang besar. Hal tersebut mencakup dari segi fasilitas, keuangan, dan bentuk kemahasiswaannya.
"Tetapi saya melihat Untar berada dalam comfort zone, yakni sudah merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya. Secara tidak sadar orang lain semakin maju, apalagi banyak universitas baru muncul," ujarnya kala berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Roesdiman mengungkapkan, adanya kampus-kampus baru tersebut dinilai cukup dinamis. Untuk itu, sebagai rektor dia berusaha menghadapi berbagai tantangan dengan cara terus mengejar, bahkan berani keluar dari zona nyaman.
"Kami sudah merasa nyaman, ternyata tidak demikian, karena banyak PTS lain yang bagus. Kalau sudah mencapai kesuksesan tentu belum, tantangan banyak sekali," ucapnya.
Lulusan doktor dari Ohio State University AS itu memaparkan, ada empat hal yang dia kembangkan untuk keluar dari comfort zone. Pertama, yakni menyangkut tenaga dosen. Menurut dia, dosen handal sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang mumpuni.
Kedua, yakni dalam hal pengembangan laboratorium. Melalui laboratorium yang memadai, akan membuat suatu kampus lebih unggul. Pasalnya, universitas yang tidak punya bidang untuk dipraktikkan di laboratorium bisa didirikan di mana saja, termasuk di rumah toko (ruko).
"Kalau kita punya jurusan kedokteran atau teknik sipil pasti butuh laboratorium. Laboratorium harus dikembangkan, termasuk penelitian, alat, dan mesinnya. Sedangkan yang keempat adalah insfrastruktur pengembangan dalam teknologi," terangnya.
Roesdiman menjelaskan, teknologi informasi atau IT merupakan salah satu bidang di Untar yang sedikit berada dalam zona nyaman. Sebab, perkembangan teknologi saat ini cukup pesat. Sedangkan keempat, yang butuh diperbaiki adalah prasarana dalam arti gedung.
"Kalau kita mau melewati gelombang teknologi, maka harus berlayar menggunakan kapal teknologi dan jangan berlawanan. Oleh karena itu IT akan terus dikembangkan, sudah dimulai tapi butuh waktu untuk betul-betul terimplementasi. Sedangkan terkait prasarana gedung kami berencana membangun rumah sakit lagi dan gedung untuk asrama," sebut pria berkacamata itu.
Dia menambahkan, alasan mengapa dosen menjadi utama untuk terus ditingkatkan kualitasnya adalah karena menjadi kunci keberhasilan suatu pendidikan tinggi.
"Kalau tersedia profesor hebat di tempat yang terbatas, tentu muridnya ada harapan untuk pintar dan maju. Tetapi ketika ada gedung bagus tanpa punya dosen, nasib muridnya tak bisa dibayangkan. Kemudian setelah kita memperbaiki itu semua, tinggal diberi penelitian. Tentunya yang menilai bukan kita sendiri, tapi orang lain. Salah satu contohnya dilihat melalui peringkat perguruan tinggi," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)