JAKARTA - Saat ini, puluhan ribu SMA/sederajat di Indonesia menerapkan kurikulum 2006 dan 2013. Penerapan kurikulum yang tak seragam tersebut membuat panitia SNMPTN 2016 kesulitan.
"Pemeringkatan siswa yang layak dan tidak layak mendaftar itu disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Kami minta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tidak bolak-balik menggunakan kurikulum, karena kita yang repot," ujar Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Rochmat, seperti dilansir Antara, Rabu (9/3/2016).
Menurut Rochmat, panitia SNMPTN 2016 cukup sulit dalam melakukan pemeringkatan karena SMA di Tanah Air menggunakan dua kurikulum. Dia menjelaskan, sistem akan melakukan pemeringkatan berdasarkan jumlah SKS untuk sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 dan berdasarkan jam belajar untuk sekolah yang menggunakan kurikulum 2006 atau KTSP.
"Penerapan kurikulum yang berbeda ini membuat pemeringkatan SNMPTN 2016 tidak menjadi seideal semula," imbuh Rochmat.